Sejak beberapa tahun terakhir, saya cukup sering memperhatikan satu pola di tempat kerja. Ada pemimpin yang tiba-tiba menjadi dingin ketika anak buahnya mulai menunjukkan kemampuan yang lebih tajam. Ada juga orang pintar di dalam tim yang justru paling cepat dipindahkan, tidak lagi dilibatkan dalam proyek penting, atau akhirnya memilih pergi karena sudah tidak betah.
Saya pernah berada di kedua sisi situasi seperti itu. Pernah menjadi bawahan, pernah juga menjadi pemimpin.
Dari pengalaman tersebut, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana. Insecure leader cenderung mengumpulkan pengikut, sementara great leader justru mencetak pengganti.
Kedengarannya sederhana, tetapi perbedaannya terasa sekali dalam kehidupan sebuah tim. Pemimpin yang insecure biasanya sibuk menjaga posisi. Pemimpin yang percaya diri justru sibuk membangun orang-orang yang suatu hari mungkin bisa bekerja lebih hebat darinya.
Yang menarik, pemimpin insecure tidak selalu terlihat seperti orang yang kasar, pemarah, atau suka merendahkan bawahan. Kadang ia terlihat sangat profesional. Kadang ia bahkan terlihat sangat peduli kepada timnya.
Masalahnya ada pada pola kecil yang muncul ketika egonya mulai merasa terancam.
Tanda Kamu Adalah Insecure Leader
Berikut beberapa tanda yang mungkin tidak pernah kamu sadari.
1. Kamu Merasa Tidak Nyaman Ketika Anak Buahmu Lebih Pintar
Secara logika, semua pemimpin pasti ingin memiliki anggota tim yang pintar. Namun, dalam praktiknya, tidak semua pemimpin benar-benar nyaman ketika orang di bawahnya mulai lebih hebat dalam bidang tertentu.
Saya pernah melihat bagaimana orang yang memiliki ide lebih tajam justru perlahan dijauhkan dari proyek penting. Bukan karena hasil kerjanya buruk, tetapi karena keberadaannya membuat posisi pemimpinnya terasa kurang dominan.
Inilah salah satu tanda insecure leader yang paling mudah disembunyikan dari diri sendiri. Kamu mungkin tidak pernah berkata, “Saya takut dia lebih hebat dari saya.” Sebaliknya, kamu mencari alasan yang terdengar masuk akal.
Katanya belum siap. Katanya komunikasinya kurang bagus. Katanya belum cukup berpengalaman.
Padahal, kalau orang yang sama terus menunjukkan hasil yang bagus, mungkin masalah sebenarnya bukan pada kemampuannya.
Great leader tidak merasa harga dirinya turun ketika anggota timnya lebih hebat dalam sesuatu. Ia justru merasa beruntung karena punya orang yang bisa melihat sesuatu yang tidak bisa ia lihat.
2. Kamu Lebih Suka Mencetak Pengikut daripada Mencetak Pengganti
Ini mungkin perbedaan paling besar antara pemimpin insecure dan pemimpin hebat.
Pemimpin insecure biasanya ingin orang-orang di sekitarnya mengikuti cara berpikirnya. Ia senang ketika semua orang menunggu instruksinya, meminta persetujuannya, dan menganggapnya sebagai sumber jawaban utama.
Sementara itu, pemimpin hebat justru punya tujuan yang agak aneh jika dilihat dari sudut pandang ego. Ia ingin orang yang dipimpinnya semakin pintar sampai suatu hari mampu menggantikannya.
Saya sendiri pernah mengalami momen seperti ini ketika menjadi Redaktur Pelaksana di sebuah media. Ada seorang wartawan junior yang cukup rajin dan punya kemauan belajar. Dari luar, dia bahkan tidak terlihat seperti orang yang akan serius menekuni dunia menulis.
Namun, dia terus berkembang.
Ketika saya kemudian pindah ke dunia digital dan media sosial, dia justru melesat. Sekarang dia bekerja di salah satu media nasional di Indonesia. Ada rasa bangga ketika melihat orang yang dulu saya bimbing ternyata bisa berkembang jauh.
Bagi saya, itu bukan kehilangan posisi. Itu justru salah satu bentuk keberhasilan kepemimpinan.
3. Kamu Sengaja Menahan Orang Pintar dari Panggung
Ada pemimpin yang tidak secara langsung mematikan karier bawahannya. Ia hanya tidak pernah benar-benar memberikan panggung.
Orang tersebut jarang diajak presentasi. Tidak diberi kesempatan bertemu klien. Tidak dilibatkan dalam keputusan penting. Ide-idenya sering ditunda. Promosinya selalu punya alasan untuk menunggu.
Ini menarik karena dari luar semuanya terlihat normal. Tidak ada konflik. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada kalimat yang secara terang-terangan mengatakan bahwa orang tersebut tidak disukai.
Namun, karier seseorang bisa dibuat mandek hanya dengan tidak memberinya kesempatan.
Kalau kamu seorang pemimpin, coba lihat siapa saja yang paling sering kamu beri kesempatan tampil. Apakah mereka memang yang paling kompeten, atau justru mereka yang paling aman bagi egomu?
Great leader memberikan panggung kepada orang yang tepat, bahkan ketika orang itu berpotensi mendapatkan perhatian lebih besar darinya.
4. Kamu Mengambil Ide Bawahan karena Takut Terlihat Tidak Pintar
Ini salah satu perilaku yang sangat halus.
Seorang anggota tim memberikan ide. Pemimpin mendengarkannya. Beberapa hari kemudian, ide tersebut muncul dalam rapat dengan atasan dan disampaikan seolah-olah berasal dari pemimpin.
Tidak ada yang tahu. Atau mungkin semua orang tahu, tetapi memilih diam.
Saya pernah menemukan pola seperti ini dalam lingkungan kerja. Bahkan, dalam beberapa situasi, pemimpin bisa lebih jauh lagi dengan mengambil kredit atas hasil kerja orang lain.
Masalahnya bukan sekadar soal penghargaan.
Ketika seseorang merasa idenya tidak akan pernah diakui, ia akan berhenti memberikan ide. Lama-lama, tim memang terlihat tenang, tetapi sebenarnya sedang kehilangan salah satu sumber pertumbuhan terpentingnya.
Pemimpin yang kuat tidak takut mengatakan, “Ide ini dari dia.”
Justru dengan melakukan itu, ia menunjukkan bahwa dirinya cukup percaya diri untuk tidak harus menjadi orang paling pintar di ruangan.
5. Kamu Menjadikan Dirimu sebagai Satu-Satunya Jalan Menuju Keputusan
Kalau semua hal harus menunggu persetujuanmu, jangan buru-buru menganggap itu sebagai bukti bahwa tim sangat menghargai kepemimpinanmu.
Bisa jadi kamu sedang menjadi bottleneck.
Saya pernah menulis bahwa kalau seorang pemimpin adalah satu-satunya orang yang bisa berpikir strategis, setiap keputusan akhirnya harus menunggu satu kepala. Ketika orang tersebut sibuk, semuanya ikut berhenti.
Tim seperti ini mungkin terlihat sangat bergantung kepada pemimpinnya. Namun, sebenarnya ketergantungan tersebut adalah kelemahan.
Great leader perlahan memindahkan kemampuan mengambil keputusan kepada tim. Ia mengajari orang lain cara berpikir, bukan hanya memberikan jawaban.
Tujuannya bukan supaya dirinya tidak penting.
Tujuannya supaya pekerjaan tetap berjalan meskipun dirinya sedang tidak ada.
BACA JUGA: Insecure Leader Memecat Orang Pintar, Pemimpin Hebat Mencetak Pengganti
6. Kamu Lebih Cepat Mencari Kesalahan Orang yang Membuatmu Tidak Nyaman
Ketika seseorang sudah dianggap sebagai ancaman, hal kecil tentang dirinya bisa tiba-tiba terasa jauh lebih besar.
Cara bicaranya mulai dianggap kurang sopan. Gayanya dianggap terlalu percaya diri. Ada satu kesalahan kecil yang terus diingat. Bahkan kebiasaan yang sebenarnya tidak berhubungan dengan kualitas kerja bisa dijadikan alasan untuk mempertanyakan profesionalismenya.
Ini salah satu tanda insecure leader yang cukup berbahaya karena pemimpinnya bisa merasa sedang bersikap objektif.
Padahal, standar yang digunakan mungkin berbeda untuk orang yang berbeda.
Orang yang disukai diberi toleransi. Orang yang dianggap mengancam justru diperiksa lebih ketat.
Karena itu, kalau kamu merasa sangat terganggu dengan seseorang di tim, coba pisahkan antara masalah performa dan rasa tidak nyaman secara pribadi.
Pertanyaannya sederhana. Kalau orang ini tidak lebih pintar darimu, apakah kesalahan yang sama masih akan terasa sebesar ini?
7. Kamu Tidak Suka Ketika Orang yang Pernah Kamu Bimbing Mulai Melampauimu
Ada kepuasan tersendiri ketika melihat seseorang berkembang karena pernah kita bantu. Namun, ada juga sisi ego yang kadang sulit diakui.
Kita bisa merasa bangga sekaligus sedikit terancam.
Ini manusiawi.
Dalam pengalaman saya, melihat mantan junior berkembang justru menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak berhenti ketika orang tersebut keluar dari bawahannya.
Kalau orang yang pernah kamu bimbing kemudian mendapatkan posisi lebih tinggi, memiliki kemampuan lebih baik, atau bahkan bekerja di tempat yang lebih besar, seharusnya ada bagian dalam dirimu yang merasa berhasil.
Sebab, kalau keberhasilan bawahan membuatmu merasa kalah, mungkin sejak awal kamu melihat hubungan tersebut sebagai kompetisi.
Great leader tidak melihat perkembangan bawahannya sebagai ancaman terhadap sejarahnya. Ia melihatnya sebagai bagian dari warisannya.
8. Kamu Lebih Peduli Menjaga Wibawa daripada Mendapatkan Hasil Terbaik
Ada saat ketika seorang pemimpin harus mengakui bahwa keputusan orang lain lebih bagus.
Ini terdengar mudah sampai kamu benar-benar mengalaminya.
Ego akan mengatakan bahwa kamu harus mempertahankan keputusan karena kalau berubah pikiran, orang akan menganggapmu lemah.
Padahal, pemimpin tidak dibayar untuk selalu benar. Pemimpin dibutuhkan untuk membantu tim mengambil keputusan yang paling baik.
Dalam artikel pengalaman saya, saya juga menulis tentang dilema antara ego dan pertumbuhan tim. Menurut saya, keduanya tidak selalu harus dipertentangkan. Ada situasi ketika nama baik memang perlu dijaga, tetapi ada juga saat ketika pertumbuhan tim harus ditempatkan lebih tinggi daripada kebutuhan untuk terlihat benar.
Kedewasaan seorang pemimpin justru terlihat dari kemampuannya membedakan kedua situasi tersebut.
9. Kamu Membuat Orang Takut Memberi Tahu Ketika Kamu Salah
Perhatikan suasana ketika kamu membuat keputusan.
Apakah orang-orang berani berkata, “Menurut saya, keputusan ini kurang tepat”?
Atau mereka lebih sering diam, mengangguk, lalu membicarakannya setelah rapat selesai?
Kalau yang kedua lebih sering terjadi, mungkin ada masalah yang lebih besar daripada sekadar kurangnya komunikasi.
Penelitian tentang humble leadership yang dilakukan Yanfei Wang, Jieqiong Liu, dan Yu Zhu terhadap 328 anggota tim dalam 106 tim menemukan bahwa kerendahan hati pemimpin berkaitan dengan psychological safety, yang kemudian berhubungan dengan kreativitas anggota tim. Dalam penelitian tersebut, pemimpin yang terbuka terhadap keterbatasan, menghargai kontribusi orang lain, dan mau belajar membantu menciptakan suasana yang lebih aman bagi anggota tim untuk menyampaikan ide.
Kamu bisa membaca penelitian tersebut secara lengkap di Frontiers in Psychology.
Penelitian lain oleh Kayla N. Walters dan Dalia L. Diab terhadap 140 pekerja juga menemukan bahwa hubungan antara humble leadership dan keterlibatan karyawan dimediasi oleh psychological safety. Dengan kata lain, ketika pemimpin mampu mengakui keterbatasan dan kesalahan serta menghargai kekuatan bawahannya, orang-orang dapat bekerja dengan lebih aman tanpa terlalu takut terhadap konsekuensi negatif.
Jadi, kalau timmu selalu setuju denganmu, jangan langsung menganggap kamu selalu benar. Bisa jadi mereka hanya belum merasa aman untuk mengatakan bahwa kamu salah.
10. Kamu Takut Meninggalkan Tim yang Bisa Berjalan Tanpamu
Ini mungkin tanda terakhir sekaligus yang paling penting.
Bayangkan suatu hari kamu resign.
Apakah timmu tetap bisa mengambil keputusan? Apakah mereka tahu cara menyelesaikan masalah? Apakah ada orang yang bisa meneruskan pekerjaanmu dengan kualitas yang sama, atau bahkan lebih baik?
Kalau jawabannya iya, itu bukan berarti kepemimpinanmu gagal.
Justru mungkin sebaliknya.
Tugas seorang pemimpin bukan menjadi orang yang paling dibutuhkan selamanya. Tugasnya adalah membangun sistem dan manusia yang cukup kuat untuk tetap berjalan ketika dirinya sudah tidak berada di sana.
Itulah mengapa saya percaya bahwa legacy seorang pemimpin bukan sekadar tentang apa yang berhasil ia lakukan sendiri.
Legacy lebih besar dari itu.
Legacy adalah tentang orang-orang yang menjadi lebih hebat karena pernah bekerja bersamamu.
Jadi, Kamu Insecure Leader atau Great Leader?
Setelah membaca semua ini, mungkin kamu menemukan beberapa tanda yang ada di dalam dirimu sendiri.
Tidak perlu langsung merasa buruk.
Insecurity itu manusiawi. Bahkan pemimpin yang sangat percaya diri pun bisa merasa terancam ketika bertemu seseorang yang lebih hebat darinya. Perbedaannya bukan pada apakah rasa itu pernah muncul atau tidak.
Perbedaannya ada pada apa yang kamu lakukan setelah rasa itu muncul.
Kamu bisa menyingkirkan orang tersebut supaya merasa aman. Atau kamu bisa belajar darinya supaya timmu menjadi lebih kuat.
Kamu bisa mempertahankan semua keputusan di tanganmu. Atau kamu bisa mengajari orang lain cara mengambil keputusan.
Kamu bisa takut ketika bawahanmu mulai melampauimu. Atau kamu bisa merasa bangga karena ternyata orang yang pernah kamu bantu tumbuh kini bisa berdiri lebih tinggi.
Pada akhirnya, ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin lebih berguna daripada bertanya apakah kamu sudah menjadi great leader.
Apakah kamu sedang mengumpulkan followers, atau sedang mencetak orang-orang yang suatu hari bisa menggantikanmu dengan lebih baik?
Karena pemimpin yang hebat tidak sibuk memastikan dirinya selalu menjadi yang paling bersinar.
Ia justru menyalakan panggung agar orang lain punya kesempatan untuk bersinar.
Dan mungkin, justru ketika orang lain sudah tidak membutuhkanmu lagi, di situlah kamu bisa melihat seberapa besar dampak kepemimpinanmu sebenarnya.

Leave a Reply