Sejak beberapa tahun terakhir, saya cukup sering memperhatikan pola ini di tempat kerja.
Ada pemimpin yang tiba-tiba jadi dingin begitu ada anak buahnya yang idenya lebih tajam dari dia. Ada juga yang orang paling pintar di timnya justru yang paling cepat “dipindahkan”, direstrukturisasi, atau ujung-ujungnya keluar sendiri karena sudah tidak betah.
Saya pernah ada di situasi seperti itu. Baik sebagai bawahan, maupun sebagai pemimpin.
Dan setelah cukup lama mengamati polanya, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana.
Insecure leader cenderung merekrut pengikut. Sementara pemimpin hebat justru mencetak pengganti.
Kedengarannya klise. Tapi bedanya jauh sekali kalau dilihat dari dampaknya ke tim, dan ke diri sendiri.
Kenapa Pemimpin Insecure Takut Sama Orang Pintar
Ini bagian yang menarik buat saya.
Secara logika, siapa yang tidak mau punya tim isinya orang-orang jago? Tapi kalau leadership-nya dibangun di atas rasa insecure, orang pintar justru terasa seperti ancaman. Bukan aset.
Kenapa bisa begitu?
Karena bagi sebagian pemimpin, posisi itu sudah menjadi identitas. Begitu ada orang lain yang analisisnya lebih cepat, atau cara bicaranya lebih meyakinkan di depan klien, ego langsung bereaksi.
Bukannya dirangkul, orang seperti ini malah pelan-pelan disingkirkan.
Kadang lewat performance review yang terasa aneh. Kadang dengan cara dikucilkan dari proyek penting. Kadang, paling parah, langsung dipecat dengan alasan yang dicari-cari.
Tanda-Tanda Halus yang Sering Luput
Insecure leader jarang kelihatan jahat secara terang-terangan.
Justru yang berbahaya itu yang halus. Memuji di depan, tapi menjatuhkan di belakang. Selalu punya alasan untuk menunda promosi orang berbakat. Atau selalu ingin jadi orang paling pintar di dalam ruangan.
Ada juga yang mencuri ide bawahan dan disampaikan kepada atasan bahwa itu adalah ide darinya.
Saya juga pernah menemukan adanya leader yang akhirnya mencari alasan-alasan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan untuk menyingkirkan bawahan tersebut. Bisa sikapnya, atau kebiasaannya. Bahkan cara berbicara pun juga bisa jadi senjata.
Dari pengalaman saya menjadi bawahan dengan leader seperti ini, lebih baik sedikit cari aman. Untuk situasi-situasi tertentu, lebih baik turuti saja dulu apa yang diinginkannya. Tapi, jika ada momen yang pas untuk mengeluarkan skill dan ide, jangan ragu-ragu melakukannya.
Kadang-kadang, setelah menurutinya, tetap saja ide saya yang dipakai karena idenya tidak memiliki performa yang bagus. Sebab, di dunia kerja, tetap hasil yang jadi penentunya. Jadi, kendalikan juga emosimu kalau punya leader seperti ini, jangan jadi follower saja.
BACA JUGA: Sejak Punya Nintendo DS Lite, Waktu Saya untuk Scrolling Media Sosial Semakin Sedikit
Great Leaders Justru Sengaja Mencari Orang yang Bisa Menggantikan Mereka

Ini kebalikannya.
Pemimpin yang benar-benar percaya diri tidak takut kalau ada anggota timnya yang lebih jago di bidang tertentu. Mereka malah secara sadar mencari orang seperti itu.
Kenapa?
Karena mereka paham, kalau semua keputusan penting hanya bisa diambil oleh satu orang, itu bukan tim yang kuat. Itu bottleneck.
Coba bayangkan, kalau seorang leader adalah satu-satunya orang yang bisa berpikir strategis, timnya akan selalu menunggu dia. Setiap keputusan mandek sampai dia tersedia.
Growth-nya jadi lambat. Semua bergantung pada kapasitas satu kepala saja.
Efek Domino dari Mengelilingi Diri dengan Orang yang Lebih Tajam
Begitu seorang pemimpin berani mengelilingi diri dengan orang-orang yang lebih jago, entah lebih detail, lebih kreatif, atau lebih berani ambil risiko, banyak hal ikut berubah.
Blind spot-nya mengecil. Orang-orang di sekitarnya melihat hal yang dia lewatkan, dan berani mengatakannya.
Keputusan jadi lebih matang. Perspektif baru mengubah ide bagus menjadi ide hebat.
Growth-nya sendiri jadi lebih cepat, karena standar di sekitarnya ikut naik.
Inovasi jadi lebih hidup, karena ada cara berpikir baru yang mendobrak pola lama.
Trust juga makin dalam, karena tim tahu dia menghargai kebenaran, bukan sekadar ego.
Pengaruhnya meluas, melebihi kapasitasnya sendiri, karena orang-orang di sekitarnya ikut bergerak dan berkarya.
Dan yang paling penting, dia berhenti jadi bottleneck. Tim yang kuat tidak menunggu instruksi. Mereka bergerak sendiri.
Ini bukan teori kosong. Ini pola yang cukup jelas kalau kita perhatikan, organisasi mana yang benar-benar berkembang sehat dalam jangka panjang, dan mana yang hanya terlihat sukses di permukaan tapi rapuh di dalamnya.
BACA JUGA: 10 Rahasia Mengatasi Overthinking yang Jarang Diketahui
Tapi Susah, Kan, Kalau Bawahan Lebih Jago dari Kita
Saya mengerti. Ini memang bukan hal yang otomatis.
Insecurity itu manusiawi. Yang membedakan insecure leader dengan pemimpin hebat bukan soal siapa yang pernah merasa terancam. Semua pemimpin pasti pernah mengalaminya.
Yang membedakan adalah apa yang mereka lakukan dengan perasaan itu.
Momen Ketika Saya Harus Memilih, Antara Ego atau Pertumbuhan Tim
Ketika momen dilematis itu muncul, saya membayangkan saya adalah Crono dari game Crono Trigger yang sedang menghadapi dua musuh sekaligus. Keduanya punya kekuatan dan serangan yang berbeda-beda.
Dari sana, saya belajar untuk tidak memilih antara ego atau pertumbuhan tim. Tapi, saya menyesuaikan berdasarkan situasi dan kondisi. Ada kondisi saya harus menaikan ego, ada kondisi saya harus membela pertumbuhan tim.
Ego naik ketika yang terancam bukan posisi, tapi nama baik. Sementara pertumbuhan tim naik ketika yang menjadi masalah adalah performa atau KPI.
Momen seperti itu biasanya menjadi titik balik.
Ada pemimpin yang memilih melindungi status quo-nya. Ada yang memilih melepaskan kontrol, demi tim yang lebih kuat. Dan, saya mencoba pendekatan yang lebih dinamis.
BACA JUGA: 10 Tanda Mental Kamu Semakin Dewasa dan Kuat
Legacy Sejati Bukan Soal Diri Sendiri, Tapi Soal Apa yang Dibangun di Orang Lain
Ini bagian yang menurut saya paling penting dari semuanya.
Tugas seorang pemimpin bukan untuk jadi yang paling bersinar di dalam ruangan. Tugasnya adalah menyalakan panggung, supaya orang lain bisa tampil dan bersinar.
Karena pada akhirnya, legacy seorang pemimpin tidak akan diukur dari seberapa pintar dia sendiri.
Tapi dari seberapa banyak orang hebat yang pernah dia bantu tumbuh. Dan seberapa jauh mereka melangkah, setelah tidak lagi bekerja bersamanya.
Saat Melihat “Pengganti” Justru Jadi Momen Paling Membanggakan
Saya teringat ketika menjadi Redaktur Pelaksana di media tempat saya bekerja dulu. Ada satu orang wartawan junior yang lumayan rajin dan pintar. Meski secara tampak, sangat tidak seperti orang yang suka menulis.
Dia mau belajar, punya ide, punya kemauan untuk bekerja. Hingga akhirnya, ketika saya memutuskan switch career ke dunia digital dan media sosial, dia melesat jauh bahkan kini bekerja di salah satu media nasional di Indonesia.
Ada rasa bangga melihatnya. Dia yang dulu saya anggap anak-anak, malah menjadi salah satu orang yang diperhitungkan di sebuah media besar. Kadang-kadang, kalau misalnya bertemu dia juga masih agak tampak sungkan pada saya.
BACA JUGA: 10 Ciri-Ciri Otak Kamu Sudah Rusak dan Perlu Direset
Jadi, Kamu Termasuk yang Mana
Kalau kamu seorang pemimpin, coba tanya jujur ke diri sendiri.
Sedang mengumpulkan followers, atau sedang mencetak orang-orang yang suatu hari bisa menggantikan posisimu dengan lebih baik?
Kalau kamu bukan pemimpin, kamu juga bisa lihat dari sisi lain. Apakah atasanmu sekarang tipe yang insecure dengan kepintaranmu, atau tipe yang justru mendorongmu untuk terus berkembang?
Growth memang selalu dimulai dari keberanian untuk melepaskan kontrol.
Tidak mudah. Tapi ternyata, worth it.
Sekarang giliran kamu cerita. Pernah tidak kamu merasakan langsung bagaimana rasanya bekerja di bawah insecure leader? Atau justru pernah punya atasan yang dengan tulus mendorongmu jadi lebih jago dari dia?
Tulis pengalamanmu di kolom komentar. Saya penasaran.

Leave a Reply