Beberapa minggu lalu saya dilanda ketakutan. Saya dan Anita, pacar saya, sudah ada rencana lamaran dan menikah yang kami tentukan berdua. Langkah selanjutnya adalah membicarakannya dengan keluarga saya. Itulah ketakutan saya. Saya takut ketika membicarakannya dengan keluarga, jawabannya akan mengerikan seperti yang ada di bayangan saya.
Tapi, beberapa hari lalu saya memberanikan diri untuk bicara pada keluarga soal rencana lamaran ini. Siapa sangka, jawaban mereka sangat positif. Mereka mendukung bahkan ada yang ingin membantu menyiapkan perlengkapan kami. Ternyata, hanya dengan memaksa keberanian muncul dalam diri, ketakutan bisa hilang begitu saja.
Dengarkan Versi Audio Visual:
Seketika saya ingat dengan Aristoteles. Iya, tokoh filsafat terkemuka itu sudah membahas soal rasa takut ini sejak lama. Dalam etika Aristoteles, keberanian itu bukan ketiadaan rasa takut, tapi kemampuan bertindak benar meskipun rasa takut itu ada. Orang yang nggak ngerasa takut sama sekali itu bukan berani, itu ceroboh.
Susan Jeffers juga pernah membahas soal ini dengan teori Feel The Fear, Do It Anyway. Kata dia, tindakan kita tidak ditentukan oleh keberanian. Tapi sebaliknya, keberanian ditentukan oleh tindakan. Saya tidak serta memupuk keberanian untuk bertindak, tapi saya bertindak untuk memunculkan keberanian. Akhirnya, rasa takut itu pun hilang.
BACA JUGA: Pengertian Berpikir Kritis, Skill yang Sering Disalahartikan Sebagai Suka Protes
Tapi jauh dari semua teori buatan manusia itu. Ternyata Nabi Muhammad SAW juga sudah mendapatkan wahyu yang membahas hal serupa. Di Surat Ali Imran ayat 159, kita diperintahkan untuk membulatkan tekad, baru bertawakal. Islam mengajarkan kita bertindak dulu, bukan menunggu keberanian dulu. Sisanya serahkan pada Allah.
Dari pengalaman saya itu, ada baiknya, kamu, pembaca surat ini, untuk berhenti menunggu keberanian muncul dan terkungkung dalam rasa takut. Ketika ada keputusan, lakukanlah sesuai rencana kamu. Keyakinan itu akan muncul seketika terlepas dari apapun hasil yang datang.
Akhirnya saya pun jadi berpikir, dunia ini tidak dibangun oleh orang-orang yang berani. Dunia ini dibangun oleh orang yang bertekad kuat dan konsisten dalam bertindak. Kemudian, muncul keyakinan dalam diri mereka hingga tak gentar menghadapi segala masalah akibat dari tindakan mereka itu.
Saya pun jadi ingat dengan teman-teman saya yang kemudian memberanikan diri melamar pacarnya atau menikah di usia muda. Saya pikir mereka tidak kekurangan rencana dalam mengarungi bahtera rumah tangga, mereka hanya mencoba menjalankan rencana itu dengan penuh keyakinan.
BACA JUGA: Saya Menghapus Semua Aplikasi Sosmed di HP, dan Ini yang Saya Rasakan Selama 1 Minggu
Mungkin, kamu sudah mulai harus melihat berbagai rencana yang tertunda, catatan ide yang tak kunjung jadi karya, atau rencana hidup yang tak kunjung dibicarakan. Alangkah baiknya, untuk mulai bertindak untuk itu semua. Sebab, kalau bukan kamu yang bertindak, itu semua tak akan jadi apa-apa.
Rasa takut yang ada dalam pikiran kita hanya bayangan semu yang tak nyata. Sebagian besar malah tak pernah menjadi kenyataan. Rasa takut yang kamu pelihara tidak menciutkan keberanian, tapi menimbulkan kemalasan. Tapi satu tindakan kecil, maka tak hanya keberanian yang muncul, tapi motivasi untuk bertumbuh akan semakin kuat.
Saya pun akhirnya paham, setiap orang yang ada di dunia ini bukannya kurang pintar, kurang cerdas, atau bahkan kurang baik. Kita hanya kurang bertindak atas apa yang kita rasa benar. Untuk itulah surat ini ditulis pada minggu ini.
Dari cerita ini, saya dan Anita tinggal mempersiapkan berbagai hal untuk acara lamaran sederhana kami. Doakan kami bisa melewati berbagai rintangannya, ya.
Terima kasih sudah membaca, sampai jumpa di surat berikutnya.


Leave a Reply