Setiap buka HP tanpa sadar jari saya mencari aplikasi berlogo kamera dengan gradasi warna pink. Ya, Instagram. Apapun tujuan awalnya ketika mau membuka HP, hal yang saya lakukan malah membuka Instagram.
Berniat untuk buka notes, malah buka Instagram dulu. Ingin kabari orang tua, malah buka Instagram dulu. Ujung-ujungnya tenggelam ke dalam doom scrolling. Pernah mengalami hal seperti ini juga?
Setelah menonton berbagai video mengenai Digital Minimalism dari banyak YouTuber luar negeri, akhirnya saya membuat keputusan krusial. Saya menghapus semua aplikasi sosial media (sosmed) di HP saya.
Tapi bukan berarti saya tak menggunakan sosmed, saya melakukan metode yang lumayan umum di kalangan penganut digital minimalism. Saya memisahkan fungsi dari tiga perangkat yang saya miliki.
HP saya fungsikan sebagai alat komunikasi, tak ada sosmed tak ada YouTube. Hanya ada WhatsApp, pemutar musik, dan AI Chatbot. Tablet saya fungsikan sebagai pusat hiburan dan pengetahuan.
Ada sosmed, emulator game retro, dan berbagai aplikasi ebook. Sementara laptop, hanya diinstal aplikasi dasar, browser, dan text editor untuk coding. Dan, saya memulai perjalanan ini selama seminggu.
Sebelum itu, saya ingin memberitahu kamu, apa urgensinya saya harus melakukan ini? Menurut informasi dari BINUS TFI, rata-rata screen time HP warga Indonesia disebut sebagai salah satu yang tertinggi di dunia, yakni sekitar 5-6 jam per hari untuk penggunaan gadget secara umum.
Dan, ketika saya cek di pengaturan HP saya, itu benar adanya dan paling banyak dihabiskan oleh media sosial.
Selain itu, menurut survei APJII tahun 2025, rata-rata orang Indonesia menghabiskan 1-2 jam per hari khusus untuk scrolling media sosial dengan tren yang semakin bertambah dari tahun ke tahun.
Kalau ini, sampai sekarang rata-rata screen time saya masih segini, tapi saya akan jelaskan perbedaannya di bagian selanjutnya dari artikel ini nanti.
Kemudian, laporan digital behaviour terbaru menyebut orang Indonesia rata-rata menghabiskan lebih dari 21 jam per minggu atau setara 3 jam per hari di media sosial saja.
Oleh karena itu, penting bagi saya untuk bereksperimen bagi diri sendiri sebelum menyampaikannya kepada kalian dan akan seperti apa hasilnya setelah satu minggu saya melakukan ini.
Kenapa Saya Memisahkan Perangkat?
Saya menerapkan konsep digital minimalism. Jadi, bukan berarti saya anti teknologi atau anti sosial media, tetapi saya ingin setiap perangkat yang saya miliki punya satu fungsi khusus.
Teori ini didapatkan dari seorang profesor computer science bernama Cal Newport. Dia menyebut digital minimalism sebagai filosofi menggunakan teknologi secara online untuk aktifitas kecil yang mendukung nilai hidup dan sengaja rela ketinggalan tren.
Poin pentingnya, penulis buku Digital Minimalism ini bukan menolak adanya internet, tetapi dia menolak cara kebanyakan orang memakainya. Seperti kamu yang sekarang ini membaca artikel ini.
Menurut Newport, aplikasi sosial media memang dibuat lebih adiktif atau candu di HP ketimbang di web atau desktop. Makanya, saya memilih untuk menghapusnya di HP dan memindahkannya ke tablet agar terhindar dari kebiasaan doom scrolling.
Terlebih, belakangan ini saya banyak terpengaruh dengan video-video esai yang dibuat oleh content creator dari luar negeri. Mereka bahkan ada yang bereksperimen sampai berbulan-bulan karena kelelahan dengan konten digital.
Apakah saya juga kelelahan? Ya, banyaknya konten digital membuat kepala saya cepat penuh. Informasi di sana-sini yang kadang butuh verifikasi kedua, atau bahkan informasi yang tak penting untuk saya ketahui.
Peran HP Sebagai Alat Komunikasi
HP Samsung Galaxy A06 5G yang saya miliki awalnya adalah sumber segalanya. Hiburan, sosial media, komunikasi, bahkan sampai game. Rasanya selalu ingin buka HP bahkan saat bekerja atau baca buku. Dan, itu mengganggu.
Setiap buka HP, jari saya tiba-tiba memencet logo Instagram. Kemudian, scroll sekali, dua kali, tiga kali, hingga tak terhitung jumlahnya. Bahkan, saya kadang tidak ingat telah menonton konten apa saja.
Awalnya terasa sangat menyenangkan, tertawa melihat video lucu, meme, atau bahkan parodi-parodi aneh. Tapi mimpi buruk itu muncul ketika saya membuka jam dan menyadari telah kehilangan sangat banyak waktu.
Akhirnya, saya mengahapus semua aplikasi sosial media di HP saya. Tak ada Instagram, TikTok, Thread, X, Facebook, bahkan YouTube pun saya hapus. Menonton YouTube di HP untuk video panjang sangat tidak nyaman, dan malah lebih betah scrolling short.
Di HP ini yang saya sisakan cuma WhatsApp, Email, Chatbot AI, dan pemutar musik bernama USB Audio Player Pro. Kenapa ada pemutar musik berbayar? Karena saya suka musik mendengarkan headset hi-fi, itu saja.
WhatsApp memiliki banyak fitur yang malah mendekati sosial media, sehingga saya tak kesulitan mendapatkan informasi. Kalau ingin berita, saya langganan berbagai channel dari media besar di Indonesia, jadi saya bisa tetap update dengan berbagai informasi penting.
Chatbot AI penting bagi saya untuk menguji ide dengan cepat. Tidak mungkin saya harus membuka laptop terlebih dahulu. Dan email, adalah sarana mendapatkan newsletter penting serta berbagai pesan penting tentang layanan yang saya gunakan.
Awalnya memang terasa sangat membosankan. Setiap buka HP, saya merasa bingung mau melakukan apa. Mata kadang refleks mencari Instagram yang sudah dihapus. Notifikasi sangat sepi, paling banyak adalah pesan dari pacar saya.
Saya jadi fokus membaca berbagai newsletter yang telah berlangganan. Saya juga bisa mendapatkan berbagai info update algoritma Google dan fokus membacanya tanpa distraksi.
Mendengarkan musik jadi hanya mendengarkan musik. Dari yang awalnya mendengarkan musik sambil scroll Instagram dan Thread. Tapi lama-lama saya merasakan kedamaian.
Setelah seminggu, saya merasa tak butuh buka HP jika tak ingin menghubungi seseorang atau membalas pesan orang lain. Sisanya, saya diamkan HP itu. Sesekali cek berita terbaru atau cek email jika ada yang penting. Lalu diamkan lagi.
Peran Tablet Sebagai Sumber Hiburan dan Pengetahuan
Tablet Advan Tab V8 milik saya adalah palu gadanya. Di sana ada Instagram, Threads, Facebook, X, TikTok YouTube. Tapi selain itu, ada juga iPusnas, Google Playbook, Gramedia Digital. Ditambah, emulator retro game dari berbagai konsol jadul.
Kenapa tablet ini dijadikan palu gada? Tablet adalah perangkat yang lumayan besar. Ukuran 8 inci membuat saya merasa butuh effort untuk membawa dan menggunakannya kemana-mana.
Sosial media dan hiburan sengaja dikandangkan di satu perangkat yang secara fisik dan psikologis terasa berbeda dari HP yang bisa digenggam satu tangan.
Sejak awal, tablet ini memang digunakan paling banyak untuk main game. Saya sudah tidak main game kompetitif sejak lama karena merasa overwhelmed dengan kompetisinya yang tingkat tinggi. Jadinya, main game retro saja.
Bagi saya, game retro itu kesenangan sejati. Saya bisa happy main berjam-jam tanpa khawatir dihakimi kalau kalah. Bisa kamu bayangkan para pemain game kompetitif di luar sana, kalau ada teman setim yang jelek mainnya, bisa dihujat itu.
Selama saya memindahkan sosmed ke tablet, saya merasa tidak nyaman ketika scrolling. Sehingga, ujung-ujungnya adalah dipakai main game atau baca ebook, artikel, dan esai di inernet.
Ada banyak penelitian di internet bahwa membatasi akses internet atau sosmed membuat orang mengisi waktu dengan aktifitas yang lebih memuaskan. Dan bagi saya adalah main game dan membaca ebook.
Peran Laptop Sebagai Mesin Kerja dan Kreatif
Laptop Advan Soulmate X (saya kecewa dengan laptop ini lewat tulisan di Mojok) saya fungsikan sebagai mesin kerja dan kreatif. Saya bekerja, membuat artikel, content instagram, melalui laptop ini.
Dengan sistem operasi Linux, saya tidak menginstal banyak aplikasi, cuma aplikasi dasar bawaan, editor Zed, dan browser Firefox. Dulu saya sempat pakai Ubuntu, dan sekarang sudah beralih dengan Fedora KDE.
Apakah ada sosial media yang dibuka di laptop? Ada. Saya hanya membuka berbagai sosial media, dibarengi Meta Business Suite dan TikTok Studio. Tentunya, fungsinya adalah untuk posting konten, bukan konsumsi pasif.
Sebab, seperti yang sudah dibahas di awal, scrolling di tablet dan desktop itu tidak nyaman dan tidak menyenangkan. Jadi, fokusnya adalah untuk proses pekerjaan saja, tidak lebih.
Cal Newport juga menyarankan agar memisahkan perangkat kerja dari perangkat sosial supaya proses deep work tidak terganggu notifikasi. Dan, saya bisa merasakan kembali deep work setelah sekian lama karena melakukan ini.
Kalau dulu, ketika kerja di laptop, dikit-dikit buka HP. Dan, terkadang pekerjaan tidak selesai dan saya secara otomatis rebahan dan langsung scrolling sampai tertidur. Ini berbahaya.
Sebetulnya, ada satu barang lagi yang saya gunakan untuk membantu saya tetap produktif, yaitu buku catatan kecil sebagai to do list harian. Loh, kenapa tidak pakai reminder HP? Saya akan jelaskan di konten selanjutnya.
BACA JUGA: Kalau Kamu Perfeksionis, Siap-Siap Jadi Gagal
Data Screen Time Selama 1 Minggu
Setelah 1 minggu saya mencoba eksperimen ini pada diri saya, ternyata efeknya luar biasa. Saya akan sajikan data screen time saya dalam berbentuk angka dan gambar.
Screen Time HP
Di HP, saya menghabiskan rata-rata 1,5 sampai 2 jam per hari untuk screen time. Dengan dominasi paling banyak tentu adalah WhatsApp.

Kenapa hanya ada tiga aplikasi yang ditampilkan? Karena yang di bawahnya itu cuma kurang dari 1 menit aja. Salah satunya adalah USB Audio Player Pro yang lebih banyak berjalan di background.
Screen Time Tablet
Di tablet, rata-rata saya menghabiskan screen time selama 2-4 jam dalam sehari untuk screen time. Dengan dominasi paling banyak adalah YouTube dan emulator game retro.

Ini adalah screen time salah satu hari saya. Tampak terlihat bahwa YouTube dan Duckstation (emulator PS1) mendominasi, dan ini belum selesai karena setelah menulis artikel ini saya akan melanjutkan main Chrono Trigger di Drastic DS.
Kenapa Ini Adalah Hasil yang Baik
Rata-rata orang Indonesia menghabiskan 1-2 jam per hari khusus scrolling sosmed. Sementara saya, menghabiskan waktu tersebut sebagai total screen time.
Ada juga riset lain yang menunjukan bahwa rata-rata 3 jam 11 menit per hari di sosmed, lebih tinggi dari rata-rata global yakni 2 jam 31 menit. Sekali lagi, itu bukan screen time total, tapi screen time sosmed.
Di riset yang sama menunjukan bahwa TikTok jadi aplikasi dengan waktu screen time yang tinggi yakni 1 jam 32 menit per hari. Itu adalah screen time untuk rata-rata pengguna Indonesia.
Dari semua riset itu, saya percaya diri bahwa setup yang saya buat di tiga perangkat saya ini membuat screen time sosmed murni saya jauh di bawah rata-rata nasional.
Walaupun screen time totalnya sebenarnya tidak kecil, tapi itu dialihkan kegame dan bacaan, bukan hiburan berbasis feed algoritmik.
Apa yang Terjadi Ketika Orang Mengurangi Screen Time Sosmed?
Mengurangi screen time sosial media tidak serta merta tren digital minimalism biasa. Sudah ada banyak riset dan penelitian yang membuktikan bahwa mengurangi sosial media malah baik untuk hidup kamu.
Dari Studi PNAS Nexus membuktikan, para partisipan yang mmebatasi internet di HP mengalami screen time yang turun hampir setengah dari yang awalnya 5 jam jadi 3 jam sehari.
Para partisipan dari studi ini juga mengalami perbaikan atensi (perhatian), kesehatan mental, dan kesejahteraan secara keseluruhan. Sebab, akhirnya mereka teralihkan ke aktifitas lain di luar dunia online.
Studi dari PLOS One juga membuktikan bahwa kelompok yang mengurangi screen time keseluruhan memiliki peningkatan ekonomi, harga diri, dan kesehatan.
Emosi negatif mereka pun menurun ketimbang yang membatasi sosmed saja. Jadi, jika kamu mengurangi screen time secara keseluruhan, tidak hanya sosmed, dampaknya malah bisa lebih besar lagi.
Psikolog Sosial New York University, Jonathan Haidt menyebut, kehidupan yang terlalu berpusat pada HP membuat orang susah benar-benar hadir bersama orang lain saat bersama. Bahkan, susah duduk diam bersama pikiran sendiri.
Cal Newport juga punya konsep bernama Solitude Deprivation. Konsep ini adalah kondisi ketika seseorang hampir tidak punya waktu sendirian dalam pikirannya sendiri tanpa ikut campur orang lain.
Dan, bagi saya pribadi selain efek-efek yang saya ceritakan di awal, memiliki momen sendirian dan berpikir adalah hal yang sudah lama tidak saya rasakan. Mungkin SMA adalah yang terakhir.
BACA JUGA: Relevansi Pelatihan dengan Pekerjaan, atau Kenapa Sertifikat Itu Cuma Numpuk di Laci
Penutup
Intinya, memisahkan fungsi perangkat seperti yang saya lakukan itu bukan solusi instan untuk memperbaiki hidup. Tetapi, itu adalah upaya untuk mengubah friksi.
Ketika sosmed tidak ada lagi di HP saya, kebiasaan refleks membuka sosmed saat pegang HP berkurang dengan sendirinya.
Sekali lagi, konsep digital minimalism yang saya lakukan itu bukan menolak teknologi dan alat digital. Tapi, menempatkan aturan supaya nilai-nilai pribadi tetap terkendali, bukan dikendalikan.
Jika kamu merasakan hal-hal yang sama seperti saya, lelah dengan konten digital yang pendek, informasi berlebih di media sosial. Tak ada salahnya untuk mencoba mengurangi screen time sosmed.
Bukan berarti kamu harus berhenti sepenuhnya dari sosmed, tetapi coba untuk menguranginya sedikit demi sedikit.
Sekarang coba cek berapa screen time sosmed kamu di HP? Udah berapa jam kamu scrolling di sana?


Leave a Reply