Menjadi seorang perfeksionis selalu dikaitkan dengan kesempurnaan. Ketika mengerjakan sesuatu wajib sempurna, tidak mau melihat kesalahan sedikit pun dalam apa yang dikerjakannya. Namun, tidak sedikit sifat ini malah berujung pada sesuatu yang tidak pernah selesai. Sehingga, tak jarang kita mendapati seorang perfeksionis malah gagal dalam proyek atau pekerjaan yang dilakukannya.
Dengarkan Versi Podcast di Bawah:
Ada banyak masalah ketika kamu menjadi perfeksionis. Karya tulis tak pernah ada yang dikirim ke media, rencana bisnis yang mentok di kata ‘coming soon’, sampai laporan pekerjaan yang tak menyentuh meja atasan tepat waktu. Acap kali yang jadi permasalahan para perfeksionis adalah kualitas yang tak kunjung memenuhi standar. Tapi sebetulnya, ini hanya soal keberanian dalam menyelesaikan pekerjaan.
Peneliti Shame and Vullnerability, Brene Brown menyebut perfeksionisme sebagai perisai seberat dua puluh ton yang kamu seret-seret sambil berpikir itu akan melindungi kamu, padahal sebenarnya, itulah yang mengalangi kamu untuk terbang. Penulis buku The Gifts of Imperfection itu memberikan kita gambaran bahwa menjadi perfeksionis membuat kamu tidak hanya takut menyelesaikan, tapi takut untuk memulai.
Namun, apa yang akan saya bahas bukan berarti melarang kamu untuk mencapai kesempurnaan. Melainkan, menyadarkan kamu bahwa ketidaksempurnaan terkadang membawa keajaiban yang tak pernah kamu duga sebelumnya. Tidak masalah ketika kamu ingin pekerjaanmu sempurna, tapi akan menjadi masalah ketika keinginan akan kesempurnaan itu membuat kamu berhenti tengah jalan tanpa hasil.
BACA JUGA: Saat Kamu Meragukan Diri Sendiri
Perfeksionis Sebenarnya Takut Gagal, Bukan Ingin Sempurna

Seperti yang sudah saya bahas, orang perfeksionis selalu ingin tampil sempurna. Bagi mereka ketidaksempurnaan adalah benalu atau parasit yang membuat pekerjaan, penampilan, bahkan kehidupan mereka berantakan. Tak sedikit juga yang bilang kalau menjadi perfeksionis berarti memiliki standar yang tinggi sehingga selalu memiliki hasil kerja yang optimal yang memuaskan. Tapi pada faktanya, perfeksionisme tak seindah yang kamu bayangkan.
Berbagai data psikologis menyebutkan, perfeksionis sangat dekat dengan depresi, kecemasan, dan penghindaran atau avoidance, bukan pencapaian. Sehingga, perfeksionisme sebetulnya lebih mendekati mekanisme pertahanan diri, bukan ambisi. Memang tampaknya ambisius, tetapi pada kenyataanya seorang perfeksionis ingin sempurna karena menghindari sesuatu yang ada dalam pikirannya.
Brene Brown menjelaskan logika di balik itu semua. Ia bilang, kalau kamu terlihat sempurna, hidup sempurna, bekerja sempurna, kamu bisa menghindari atau meminimalkan rasa disalahkan, dihakimi, dan dipermalukan. Dari penjelasan professor University of Houston tersebut, perfeksionis bukan semata-mata ingin kualitas yang sempurna, tetapi takut akan berbagai penilaian buruk yang akan menimpanya, jika tidak bisa mencapai kesempurnaan.
Pada intinya, seorang perfeksionis ini takut gagal. Perfeksionis tidak ingin menghadapi kegagalan sehingga akhirnya mencoba untuk mengejar kesempurnaan untuk menghindari kegagalan tersebut. Seperti yang kita ketahui secara umum, orang yang takut gagal merupakan orang yang takut untuk memulai sesuatu. Padahal, untuk bisa mencapai kesuksesan, kamu perlu memulai, menyelesaikan, mengevaluasi, dan terus berulang hingga mencapai kesuksesan.
BACA JUGA: Cara Menulis Kutipan dari Jurnal Biar Nggak Kayak Nyontek Wikipedia
Selesai Lebih Penting daripada Sempurna
Ketika menyelesaikan skripsi pada 2023 lalu, saya selalu mendapatkan arahan dari dosen pembimbing saya, Bu Iis. Bu Iis selalu bilang, “Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai”. Saat itu saya tidak berpikir lebih dalam tentang pernyataan itu. Tapi, setelah menelaah lebih jauh, maksudnya adalah berani menyelesaikan apa yang kamu kerjakan walaupun belum sempurna. Hingga ketika sidang skripsi tiba, ada banyak kekurangan di sana-sini, dan di sana lah waktu yang tepat untuk membawa kesempurnaan itu masuk ke dalam skripsi saya.
Tapi, kata yang lebih terkenal adalah “Done is better than perfect” alias “Selesai lebih baik daripada sempurna”. Kata ini pertama kali dipopulerkan oleh Anne Mollegen Smith, seorang mantan Pemimpin Redaksi Redbook sekitar tahun 1979. Lalu, kata ini mulai dikenal luas oleh Sheryl Sandberg, mantan kepala operasional Facebook.
Bagi Sheryl Sandberg, motto tersebut melepaskan standar yang tidak realistis, karena mengejar kesempurnaan hanya menghasilkan frustrasi di titik terbaik, dan kelumpuhan di titik terburuk. Ketika kamu sedang on fire penuh semangat, perfeksionisme akan memakan banyak energi karena memikirkan berbagai ketidaksempurnaan yang harus diselesaikan secara tidak realistis. Tenaga pun mulai habis, pikiran sudah mentok, hingga akhirnya pekerjaan terbengkalai.
Namun begitu, menyelesaikan pekerjaan bukan berarti kamu harus asal-asalan yang penting beres. Kamu tetap harus berusaha sebaik mungkin memberikan semua ide, kreatifitas, tenaga, dan ilmu yang kamu punya dalam pekerjaan tersebut. Namun, pada intinya, pekerjaan itu harus selesai dan jangan sampai berhenti di tengah jalan.
Para penulis, startup, bahkan atlet yang sukses karena mereka menabung konsistensi. Penulis seperti JK Rowling harus ditolak banyak penerbit untuk menerbitkan Harry Potter, Facebook harus update fitur berkala untuk bisa seperti sekarang, dan Cristiano Ronaldo harus melalui banyak latihan menyakitkan untuk jadi pemain terbaik dunia. Tak ada kesempurnaan instan yang terjadi dalam sebuah pekerjaan, semuanya adalah hasil dari satu penyelesaian ke penyelesaian berikutnya.
BACA JUGA: Latsarmil Calon Manajer Kopdes, Pemerintah Jangan Cari ‘Rambo’ Untuk Menjaga Koperasi
Mengejar Sempurna Membuatmu Tidak Pernah Mulai

Sebelumnya kita sudah mendapatkan pemahaman bahwa perfeksionisme itu takut gagal, bukan perkara kualitas. Hingga efek lainnya dari perfeksionisme adalah membuat kamu tidak pernah memulai. Untuk menyelesaikan sesuatu, orang perfeksionis harus menghabiskan energinya mengejar kesempurnaan, dan untuk memulai sesuatu harus menghabiskan energi dengan rencana yang tak kunjung dilakukan.
Ada mekanisme yang disebut paralysis by analysis. Artinya, otak kamu menunda untuk memulai karena standar awal yang ditetapkan sudah terlalu tinggi. Penulis buku Eat, Pray, Love & Big Magic, Elizabeth Gilbert mengatakan, perfeksionisme adalah rasa takut yang mengenakan sepatu bagus dan mantel indah. Maksudnya, perfeksionisme kelihatannya seperti sesuatu yang bagus dan unggul, padahal itu adalah ketakutan yang bersembunyi dalam diri.
Penulis buku Bird by Bird, Anne Lamott punya konsep yang menarik ketika hendak memulai suatu pekerjaan yang ia sebut shitty first draft. Draft, rancangan, atau rencana kerja yang kamu buat memang bisa saja jelek, karena rancangan itu bukan produk akhir, tapi sebuah gerbang untuk memulai. Ketika hendak memulai suatu pekerjaan, baiknya laksanakan dulu rencana yang sudah kamu buat, daripada menumpuk di notes.
Seorang perfeksionis selalu ingin rencana dan rancangan yang dia buat sempurna dulu, baru dikerjakan. Sehingga tentu, untuk memulainya pun membutuhkan waktu dan energi sehingga tak jarang akhirnya pupus tengah jalan. Maka, kamu lebih baik pakai teknik minimum viable version. Ketika telah merancang sesuatu, baik itu draft atau rencana kerja, buat versi paling sederhananya dulu. Kemudian, kamu bisa melihat kekurangan-kekurangannya untuk menyempurnakannya di versi-versi selanjutnya.
BACA JUGA: Pekerjaan Need a Buddy, Beneran Ada atau Cuma Bumbu Sinetron?
Standar Terlalu Tinggi = Bentuk Kebencian pada Diri Sendiri
Ada kalanya, kita menganggap sesuatu yang baik, berbau kebagusan, atau sesuatu yang tinggi adalah hal yang positif untuk diri kita. Tetapi, pada faktanya, ada juga hal-hal yang kita anggap baik adalah hal yang sebetulnya negatif untuk diri kita sendiri, dalam hal ini adalah menempatkan standar terlalu tinggi. Wajar jika kamu ingin punya standar yang tinggi dan bagus, tapi masih banyak hal yang perlu diluruskan soal ini.
Standar tinggi yang sehat itu haruslah self-focused. Maksudnya, lebih mengarah pada sesuatu yang bisa membantu kamu untuk berkembang. Fokusnya adalah pada proses, usaha, dan karakter diri sendiri, bukan dari orang lain. Misalnya, jika minggu lalu kamu mengerjakan tugas terlambat, minggu ini kamu bertekad mengerjakan tugas tepat waktu. Contoh lain, jika kemarin shalatmu tidak 5 waktu, maka hari ini kamu ingin shalat 5 waktu.
Sementara perfeksionisme itu other-focused. Maksudnya, lebih mengarah pada apa yang orang lain pikirkan tentang kamu. Brene Brown bilang, perfeksionisme pada intinya adalah upaya mendapatkan persetujuan orang lain, bukan perbaikan diri. Misalnya, temanmu punya gaji dua kali lipat daripada kamu, maka kamu menempatkan fokus untuk menyaingi gaji temanmu itu. Contoh lainnya, kamu bertekad untuk belajar dengan keras karena kamu ingin dianggap pintar oleh orang lain.
Brene Brown juga menegaskan, perfeksionisme itu bukan pengejaran terbaik. Perfeksionisme adalah pengejaran bagian erburuk dalam diri kita, bagian yang mengatakan bahwa apapun yang kita lakukan tak pernah cukup baik. Sebab, orang perfeksionisme tentu akan menyalakan dirinya ketika hasilnya tak sempurna. Sekarang saya mau tanya, kapan terakhir kamu memuji diri sendiri karena mencoba, bukan karena hasil sempurna?
BACA JUGA: Mengapa Kita Tidak Boleh Memaksakan Kehendak kepada Orang Lain
Kamu Tidak Gagal karena Kurang Hebat, tapi karena Ingin Langsung Sempurna

Sekarang, bagaimana bisa orang yang perfeksionis malah mendekati dengan kegagalan? Di sini lah twist-nya. Kamu harus bisa membedakan, gagal karena kompetensi dengan gagal karena ekspektasi yang salah karena ingin hasil akhir sejak percobaan pertama. Jika di percobaan pertama saja kamu ingin sempurna, ketika gagal, maka kamu sudah tidak akan berharap dengan percobaan kedua dan seterusnya.
Coba kamu lihat bayi. Bayi ketika belajar berjalan, mereka harus jatuh puluhan bahkan ratusan kali. Bukan karena mereka itu tidak bisa jalan, tapi karena memang mereka butuh proses untuk mendapatkan keahlian itu. Jika bayi itu perfeksionis, maka ketika pertama kali gagal mencoba berjalan, dia tidak akan pernah mau berjalan lagi. Untuk itu, daripada kamu jadi perfeksionis, mending jadi orang dengan growth mindset atau pola pikir berkembang.
Psikolog Universitas Standford, Carol Dweck pernah bilang, orang dengan pola pikir berkembang percaya bahwa bahkan bakat dan kemampuan dasar pun dapat dikembangkan seiring waktu melalui pengalaman, bimbingan, dan sebagainya. Jadi, dengan pola pikir berkembang, kamu tidak akan merasa gagal ketika percobaan pertama tidak berhasil. Tapi, kamu akan terus mencoba dengan pengetahuan baru untuk mencapai keberhasilan.
Dari semua pembahasan panjang yang sudah saya paparkan kepada kamu, intinya adalah perfeksionisme bukan tentang kualitas, melainkan rasa aman. Maka dari itu, kamu wajib menurunkan standar dan mulai memisahkan standar dengan rasa takut. Artinya, miliki pola pikir growth mindset dan jangan pernah putus asa ketika menghadapi kegagalan.
Setelah ini, coba untuk selesaikan satu pekerjaan hari ini yang sudah kamu tunda karena menunggu waktu sempurna atau banyak sesuatu yang menurutmu kurang sempurna. Jangan sampai kamu menyesal karena tidak pernah bisa menyelesaikan lebih awal, sama seperti yang pernah saya alami dulu. Selesai adalah bentuk keberanian, mencapai kesempurnaan hanyalah bentuk penundaan.
Dukung Saya Agar Terus Menulis Tulisan yang Inspiratif dan Menghibur



Leave a Reply