Cara menulis kutipan dari jurnal ada dua jalur utama: kutipan langsung (menyalin kalimat asli persis, dikasih tanda kutip, plus nama-tahun-halaman) dan kutipan tidak langsung (parafrase pakai bahasamu sendiri, tetap sebut nama dan tahun). Gaya paling umum di Indonesia adalah APA Style, dengan format dasar (Nama, Tahun) atau Nama (Tahun) menyatakan… Kunci utamanya cuma satu: selalu jelas mana kata orang lain, mana kata kamu.

Dulu waktu masih jadi wartawan, saya punya kebiasaan buruk: nulis kutipan sumber dengan asal comot, terus baru belakangan cari tahu siapa sebenarnya yang ngomong itu. Sekali dua kali lolos. Tapi ada satu momen redaktur saya coret separuh naskah dan nulis di pinggirnya, “ini kutipan siapa, dari mana, kapan?” Saya diam. Karena saya sendiri lupa.
Kebiasaan buruk itu ternyata nular ke dunia akademik. Saya lihat teman saya yang lagi skripsi, cara nulisnya sama persis — comot kalimat dari jurnal, tempel di paragraf, lupa kasih sumber. Bukan karena dia niat plagiat. Dia cuma nggak tahu triknya. Dan dosennya pun nggak selalu jelas menjelaskan caranya, cuma bilang “kutipannya kurang rapi” tanpa bilang rapi itu gimana.
Makanya artikel ini saya tulis bukan buat orang yang sudah jago nulis ilmiah. Ini buat kamu yang baru pertama kali pegang jurnal untuk skripsi, tugas kuliah, atau artikel yang butuh sumber kredibel — dan bingung: kutipan ini ditulis gimana sih biar nggak dianggap asal comot?
Saya akan bongkar dua jenis kutipan yang paling sering dipakai, kasih contoh konkret, dan jujur soal bagian-bagian yang memang ribet — karena memang ada.
Apa Itu Kutipan dari Jurnal?
Kutipan dari jurnal adalah pengambilan gagasan, data, atau kalimat dari artikel ilmiah yang sudah diterbitkan, untuk memperkuat argumen dalam tulisanmu sendiri. Fungsinya tiga: menunjukkan tulisanmu berbasis riset yang sahih, memberi kredit ke penulis asli, dan menghindarkanmu dari tuduhan plagiarisme.
Ada dua jenis utama:
- Kutipan langsung — kamu menyalin kalimat penulis jurnal apa adanya, tanpa mengubah satu kata pun, lalu diberi tanda kutip.
- Kutipan tidak langsung — kamu mengambil gagasannya, tapi menuliskannya ulang dengan bahasamu sendiri.
Dua-duanya sah. Tapi pemakaiannya beda konteks, dan itu yang sering bikin orang salah pilih.
Kutipan Langsung: Kapan Dipakai dan Contohnya
Kutipan langsung dipakai kalau susunan kalimat aslinya penting untuk dipertahankan — misalnya definisi teknis, data statistik, atau kalimat yang punya kekuatan retoris tersendiri. Kalau diparafrase, maknanya bisa berubah atau jadi kurang tajam.
Contoh penerapan gaya APA untuk kutipan langsung:
“Metode gaya APA sangat efektif untuk menulis kutipan untuk berbagai keperluan penelitian” (Intani & Alligator, 2022, h. 8).
Perhatikan tiga elemen wajibnya: tanda kutip di awal dan akhir kalimat, nama penulis dan tahun terbit di dalam kurung, serta nomor halaman. Kalau jurnalnya tidak punya nomor halaman (banyak jurnal daring model begini), ganti dengan nama bagian atau nomor paragraf.
Satu hal yang jarang diajarkan: kalau kutipan aslinya kepanjangan dan kamu cuma butuh sebagian, kamu boleh memotongnya. Bagian yang dihilangkan di tengah kalimat ditandai tiga titik (…), sedangkan di akhir kalimat pakai empat titik. Rapi, tapi tetap jujur ke pembaca bahwa ada bagian yang kamu potong.
Kutipan Tidak Langsung: Kapan Dipakai dan Contohnya
Kutipan tidak langsung dipakai saat kamu cuma butuh gagasan pokoknya, bukan susunan kalimat persisnya. Ini bentuk paling umum dipakai di skripsi karena lebih fleksibel — kamu bisa menyambungkan gagasan dari beberapa jurnal jadi satu paragraf yang mengalir.
Contohnya begini:
Intani dan Alligator (2022) menjelaskan bahwa gaya APA membantu menstandardisasi cara penulis akademik mencantumkan sumber, sehingga pembaca bisa menelusuri rujukan dengan mudah.
Atau bentuk lain, sumber ditaruh di belakang:
Eksplorasi pustaka merupakan langkah wajib dalam penelitian untuk memastikan data yang diteliti valid (Hermanto, 2009, h. 15-16).
Syaratnya cuma satu, tapi krusial: redaksional kalimatnya harus benar-benar buatanmu sendiri, bukan sekadar tukar dua-tiga kata dari kalimat asli. Ini yang sering jadi jebakan — banyak orang mengira “mengubah sedikit kata” sudah cukup disebut parafrase. Padahal itu masih terhitung plagiarisme kalau strukturnya identik.
BACA JUGA: Latsarmil Calon Manajer Kopdes, Pemerintah Jangan Cari ‘Rambo’ Untuk Menjaga Koperasi
Cara Menulis Kutipan dari Jurnal Langkah demi Langkah
Kalau dirangkum jadi proses, begini urutannya:
- Catat data lengkap jurnalnya dulu — nama penulis, tahun terbit, judul artikel, nama jurnal, volume, nomor edisi, dan halaman. Lakukan ini SAAT kamu membaca, jangan ditunda, karena mencari ulang data ini belakangan itu menyita waktu luar biasa.
- Tentukan jenis kutipan yang kamu butuh — langsung kalau susunan kalimat penting, tidak langsung kalau cuma gagasannya.
- Masukkan kutipan ke teks — kutipan langsung ditulis persis dengan tanda kutip, kutipan tidak langsung diparafrase.
- Tambahkan referensi singkat dalam kurung — nama penulis dan tahun, sesuai gaya sitasi yang dipakai (APA, MLA, Chicago, dsb).
- Cek ulang di daftar pustaka — pastikan setiap kutipan yang kamu tulis di badan teks juga muncul lengkap di daftar pustaka. Ini bagian yang paling sering dilupakan orang, ironisnya, padahal paling mudah dicek dosen.
Kutipan Langsung vs Kutipan Tidak Langsung
Biar makin jelas bedanya, ini perbandingannya:
| Aspek | Kutipan Langsung | Kutipan Tidak Langsung |
|---|---|---|
| Kalimat asli | Dipertahankan persis | Diparafrase dengan bahasa sendiri |
| Tanda kutip | Wajib | Tidak perlu |
| Cocok untuk | Definisi teknis, data, kalimat kuat | Gagasan umum, ringkasan argumen |
| Nomor halaman | Wajib disebut | Boleh disebut, boleh tidak |
| Risiko kalau salah | Dianggap kutip berlebihan | Dianggap plagiarisme kalau kurang diubah |
Saran saya pribadi: pakai kutipan tidak langsung sebagai andalan utama, dan kutipan langsung cuma untuk momen-momen tertentu yang benar-benar butuh kalimat asli. Kenapa? Karena tulisan yang isinya kutipan langsung bertumpuk-tumpuk itu terasa seperti kamu menempel potongan kertas orang lain, bukan menulis argumenmu sendiri. Dosen (dan pembaca pada umumnya) bisa mencium itu dari jauh.
Gaya Sitasi yang Perlu Kamu Kenal
Selain APA, ada beberapa gaya sitasi lain yang mungkin diminta kampus atau jurnal tujuanmu:
- APA Style — paling umum dipakai untuk bidang psikologi, pendidikan, dan ilmu sosial. Formatnya (Nama, Tahun).
- MLA Style — biasa dipakai bidang sastra dan humaniora. Formatnya beda dari APA karena mencantumkan nama dan halaman, tanpa tahun, di dalam teks.
- Chicago Style — punya dua sistem: catatan kaki/akhir (footnote/endnote) atau author-date yang mirip APA. Sering dipakai di bidang seni, filsafat, dan sejarah.
Jangan sampai salah pilih gaya sitasi cuma karena “yang ini lebih gampang”. Setiap jurusan biasanya sudah punya standar baku — cek panduan penulisan skripsi kampusmu sebelum mulai, karena mengganti gaya sitasi di tengah jalan itu pekerjaan yang menyebalkan.
Kesalahan yang Sering Bikin Kutipan Dianggap Bermasalah
Dari pengalaman saya membaca (dan pernah melakukan sendiri), ini kesalahan yang paling sering terjadi:
- Menulis parafrase tapi strukturnya identik dengan kalimat asli, cuma ganti satu-dua kata.
- Lupa mencantumkan nomor halaman pada kutipan langsung.
- Kutipan di badan teks ada, tapi tidak muncul di daftar pustaka (atau sebaliknya).
- Terlalu banyak kutipan langsung sampai tulisan terasa seperti kolase, bukan argumen sendiri.
- Salah urutan nama penulis kalau jurnalnya ditulis lebih dari satu orang — ini penting karena urutan nama biasanya menunjukkan besar kontribusi masing-masing penulis.
Jujur saja, sebagian dari kesalahan ini nggak fatal-fatal amat kalau cuma satu-dua kali. Tapi kalau konsisten sepanjang naskah, itu sinyal ke pembaca (atau dosen penguji) bahwa kamu menulis buru-buru tanpa proses berpikir yang matang.
BACA JUGA: Pekerjaan Need a Buddy, Beneran Ada atau Cuma Bumbu Sinetron?
FAQ Seputar Cara Menulis Kutipan dari Jurnal
Apa perbedaan kutipan langsung dan tidak langsung?
Kutipan langsung menyalin kalimat asli persis dengan tanda kutip, sementara kutipan tidak langsung menuliskan ulang gagasan penulis dengan bahasa sendiri tanpa tanda kutip.
Apakah kutipan dari jurnal harus pakai nomor halaman?
Nomor halaman wajib untuk kutipan langsung. Untuk kutipan tidak langsung, nomor halaman boleh dicantumkan tapi tidak wajib, kecuali diminta gaya sitasi tertentu.
Gaya sitasi apa yang paling umum dipakai di Indonesia?
APA Style paling umum digunakan, terutama untuk bidang psikologi, pendidikan, dan ilmu sosial, karena formatnya relatif sederhana: (Nama, Tahun).
Bagaimana cara mengutip jurnal tanpa nama penulis?
Kalau jurnal tidak menyebutkan nama penulis individu (biasanya publikasi institusi), gunakan judul jurnal atau nama institusi sebagai pengganti nama penulis dalam kutipan.
Berapa banyak kutipan langsung yang wajar dalam satu tulisan ilmiah?
Tidak ada angka pasti, tapi idealnya kutipan tidak langsung mendominasi, dan kutipan langsung hanya dipakai untuk kalimat yang benar-benar butuh dipertahankan persis, seperti definisi teknis atau data statistik.
Apakah parafrase yang cuma mengganti beberapa kata sudah cukup aman dari plagiarisme?
Tidak. Parafrase yang aman harus mengubah struktur kalimat secara menyeluruh, bukan sekadar menukar sinonim di beberapa kata, karena struktur yang identik tetap bisa dianggap plagiarisme.
Apa yang harus dilakukan kalau kutipan berasal dari sumber sekunder?
Jika kamu mengutip kutipan yang sudah dikutip penulis lain (rujukan sekunder), tuliskan kedua nama penulis dan gunakan format seperti “(Nama Asli, seperti dikutip dalam Nama Pengutip, Tahun)”.
Apakah kutipan jurnal harus muncul juga di daftar pustaka?
Ya, wajib. Setiap kutipan yang muncul di badan teks harus punya entri lengkap di daftar pustaka, dan sebaliknya — ini salah satu hal pertama yang dicek dosen penguji.
Penutup
Menulis kutipan dari jurnal itu memang bukan bagian paling seru dari proses menulis ilmiah. Tidak ada dramatisnya, tidak ada momen “aha” yang bisa dipamerkan. Tapi justru di bagian teknis dan membosankan inilah kredibilitas tulisanmu sebenarnya diuji.
Saya sendiri masih suka lupa nomor halaman kalau buru-buru. Itu manusiawi. Yang penting bukan sempurna dari awal, tapi punya sistem: catat data jurnal begitu selesai baca, pilih jenis kutipan yang tepat, dan selalu cek ulang antara badan teks dan daftar pustaka sebelum submit.
Jadi, setelah mempelajari cara menulis kutipan dari jurnal ini, buka draft skripsi atau tugasmu, dan mulai bersihkan kutipan-kutipan yang masih berantakan. Boleh pelan. Yang penting rapi di akhir.
Leave a Reply