Dalam proses hidup, tak jarang kita meragukan dan mempertanyakan diri sendiri. Sebetulnya, saya ini siapa? Apa yang harus saya kejar? Apa cita-cita saya? Di dunia yang bergerak begitu cepat dan riuh ini, kita merasa hanya setitik debu yang tak ada artinya sama sekali.
Hal yang bisa paling sangat menyakitkan adalah ketika membuka media sosial. Melihat teman-teman membagikan kebahagiaan mereka, pencapaian mereka, yang membuat kita pada akhirnya membandingkan diri sendiri. Menyedihkan, bukan?
Kadang rasa minder yang dihasilkan dari melihat sosial media, membuat kita merasa kecil untuk mimpi kita sendiri. Ujungnya, muncul rasa ragu pada diri sendiri dan menganggap diri kita takkan pernah maju. Pernah merasakannya?
Saya sendiri pernah merasakannya, bahkan sampai sekarang, ketika badan ini hendak menginjak usia 26 tahun. Merasa tertinggal dan kecil adalah makanan sehari-hari. Mempertanyakan kemampuan diri dan akhirnya merusak diri sendiri.
BACA JUGA: Cara Menulis Kutipan dari Jurnal Biar Nggak Kayak Nyontek Wikipedia
Melihat teman yang akhirnya bisa menikah, bekerja dengan gaji yang tinggi, atau melihat mereka kini bisa berkarir di luar negeri. Ego saya memuncak dan mempertanyakan kenapa saya tidak bisa seperti mereka? Apa yang salah? Apakah saya kurang berusaha?
Saya belum menemukan jawabannya saat itu.
Yang saya lakukan saat itu adalah lari dari kenyataan. Menghapus Instagram dan mulai menulis, mencurahkan isi hati tanpa tahu apa yang sebetulnya saya cari. Tapi, setidaknya rasa minder itu hilang, saya mulai bisa fokus bekerja yang saat itu gajinya tidak seberapa.
Sampai suatu ketika saya dihantam realita. Bekerja rasanya kosong. Aktifitas yang sebelumnya dipenuhi dengan passion menjadi hampa. Realitalah penyebabnya, idealisme yang dulu berdiri kokoh dipaksa runtuh, dipaksa jatuh. Tapi pada puncaknya saya memilih pergi dan mempertahankan idealisme itu.
BACA JUGA: Latsarmil Calon Manajer Kopdes, Pemerintah Jangan Cari ‘Rambo’ Untuk Menjaga Koperasi
Sekian tahun mengembara pekerjaan sambil kuliah, saya masih menulis. Menjadi orang yang namanya terpampang di Terminal Mojok, setiap minggu, pasti ada nama saya. Tapi, lagi-lagi saya dihantam realita. Tepat ketika saya bertemu dengan pacar saya. Di sana, saya dipaksa keluar, dipaksa berpikir, untuk menjadi bertanggung jawab.
Beralih karir menjadi SEO Specialist dan Web Developer kantoran membawa secercah harapan. Keuangan stabil, mental stabil, bahkan ada sodara saya yang bilang kalau saya sudah sukses. Tapi, saya merasa ada satu hal yang tertinggal dari masa lalu yaitu saya jadi berhenti menulis.
Saya pun mulai mengingat-ingat bacaan yang pernah saya baca dan terapkan dalam diri. Dan, jawaban dari segala keresahan saya adalah saya kurang bersyukur atas berbagai ilmu dan hal-hal baik yang datang ke dalam hidup saya selama ini.
Inti Dari Meragukan Diri Sendiri

Ada bakat menulis saya yang diamkan, ada pekerjaan yang baik saya kurang bersyukur, sampai bisa membantu ibu yang sudah tua pun saya masih merasa kurang baik. Saya mengulang bacaan seperti Seni Bersikap Bodo Amat sampai Filosofi Teras yang tetap saja membuat saya sadar bahwa saya kurang bersyukur.
BACA JUGA: Pekerjaan Need a Buddy, Beneran Ada atau Cuma Bumbu Sinetron?
Lambat laun, saya mulai menerima berbagai hal baik yang didapatkan teman-teman saya di media sosial. Berangsur-angsur saya berhenti membandingkan diri saya. Sebab, ada banyak hal yang seharusnya jadi pembanding yang lebih baik, seperti semangat, motivasi, ibadah, dan mental.
Saya mulai menulis dan mengaktifkan blog saya lagi. Bahkan, saya berhenti menulis hanya untuk kepentingan redaksi dan komersil. Saya menulis untuk diri saya, dan semoga bisa menginspirasi semua pembaca tulisan saya. Tapi, jika ada yang ingin berbaik hati menraktir kopi, tak ada salahnya juga.
Kini saya berusaha untuk berhenti meragukan diri sendiri dan mulai konsisten dengan hal-hal baik yang perlu saya lakukan. Ibadah diperbaiki, berkarya lebih konsisten, bekerja lebih rajin, dan mulai percaya akan ada momentum baik di kemudian hari.
Dengan berbagai rencana menikah yang saya miliki, kadang-kadang memang rasa ragu itu muncul. Apakah saya bisa bertanggung jawab? Apakah saya mampu menghidupi keluarga? Tapi, keraguan hanya bisa dijawab dengan pembuktian dalam diri sendiri. Perlahan, pasti akan saya perbaiki semua yang kurang, walau tak sempurna.
BACA JUGA: Mengapa Kita Tidak Boleh Memaksakan Kehendak kepada Orang Lain
Sebagai penonton sepakbola, kemarin sempat viral tentang kiper Tanjung Verde, Vozinha. Ia yang bisa menahan imbang raksasa seperti Spanyol langsung menjadi buah bibir banyak orang. Di usianya yang menginjak 40 tahun, performanya tak bisa diragukan lagi, followers Instagramnya pun melejit.
Namun, setelah saya mempelajari kisah hidup Vozinha, saya malu setengah mati. Baru memulai karir profesional di usia 25 sangat anomali bagi seorang pemain di tim yang main di piala dunia. Tapi, tidak dengan Vozinha. Setelah berkecimpung lama di sepakbola amatir dan hampir menyerah, momentumnya muncul di usia 40 tahun, saat ia menjadi Man Of The Match menghadapi Spanyol.
Baru setelahnya, dia merubah nasib negaranya yang cuma berpenduduk 500.000 jiwa dengan kebanggaan di kancah internasional. Semua orang tahu negaranya, tahu namanya, tahu semangatnya. Meskipun kalah di babak knockout oleh Argentina, dunia kini tahu ada kiper hebat dari negara kecil, yaitu Vozinha dari Tanjung Verde.
Tidak cuma Vozinha, saya yang mengidolakan Dan Koe pun langsung merasa malu setelah tahu tentang kehidupan awal dari sang penulis. Dan Koe pernah ditangkap polisi karena ganja, kuliah dropout, bekerja serabutan, dan baru bisa mendapatkan uang besar setelah 7-8 tahun berkarir.
Lantas, kenapa saya atau kita harus meragukan diri sendiri?
Maksimalkan Hidup Sesuai Apa yang Kita Jalani

Setiap orang berjalan di jalurnya masing-masing dengan start dan finishnya juga masing-masing. Tak ada pesaing, tak ada lap, tak ada gap. Yang ada hanyalah diri sendiri dan kehidupan yang kita jalani masing-masing. Walaupun nantinya akan ada pasangan yang menemani, tapi finish akan tetap sendiri-sendiri.
Seperti yang sudah disampaikan dalam buku Filosofi Teras. Satu-satunya hal yang bisa kita kendalikan adalah diri sendiri. Ketika kita merasa ragu pada diri sendiri, itu karena diri kita mengizinkannya. Maka kendalikan diri dan berilah izin pada diri sendiri untuk yakin bahwa apa yang kita lakukan akan membawa hal baik.
Jangan berusaha untuk jadi sempurna, karena nanti kita hanya akan mendapatkan kekecewaan. Pasti akan selalu ada yang kurang. Namun, beginilah hidup. Yang bisa kita lakukan cuma belajar dan terus memperbaikinya hari ke hari. Biarkan rasa sakit itu menjadi bumbu karena pada akhirnya akan menjadi cerita lucu.
Jadi, saat kita ragu pada diri sendiri. Cobalah merenung sejenak, tanpa ponsel, tanpa gadget. Bisa sambil ngopi dan merokok, atau sekadar bengong di teras rumah. Dengarkan apa yang tersirat dalam hati, jangan melihat orang lain, bicaralah pada diri sendiri.
Saya sering melakukannya. Sekadar duduk di teras malam-malam sambil minum kopi dan merokok. Kadang bukan overthinking yang muncul, malah ide, pemikiran-pemikiran unik, bahkan rasa tenang. Di sana saya bisa berpikir jernih, di sana saya dapat jawaban harus seperti apa karya yang saya tulis.
Sebab, yang menjadikan saya overthinking bukanlah menyendiri di malam hari seperti orang insomnia. Tapi penglihatan kita di media sosial yang tidak bisa kita filter. Kemudian, terbawa ke ranjang, dan terbayang, dan bermimpi, dan berkhayal, hingga lupa di mana kita berdiri sebetulnya.
Hidup tidak harus memenuhi ekspektasi orang lain. Bisa jadi, orang lain itu ingin menjadi seperti kita. Kadang, kita tidak bisa memprediksi akan dibawa kehidupan kita ini. Dan, jika kita mulai ragu, maka kehidupan ini sudah tidak layak lagi diperjuangkan. Yakinlah, akan ada saat di mana kita semua bahagia dengan apa yang sudah kita lalui.
Dukung Saya Agar Terus Menulis Tulisan yang Inspiratif dan Menghibur


Leave a Reply