Invisible Work, Kesibukan yang Menghabiskan Waktu tapi Tidak Terlihat sebagai Pekerjaan


Invisible Work, Kesibukan yang Menghabiskan Waktu tapi Tidak Terlihat sebagai Pekerjaan

Pagi tadi saya sedikit dibuat kesal dengan urusan pekerjaan di kantor.

Kejadian itu akhirnya membuat saya kepikiran soal invisible work, pekerjaan yang menghabiskan waktu dan energi, tapi sering tidak terlihat sebagai pekerjaan.

Entah bagaimana, ada anggapan kalau pekerjaan saya hanya membuat artikel. Padahal selain menulis artikel, kadang saya juga mengerjakan hal lain.

Salah satunya web development.

Beberapa waktu terakhir saya membantu mengerjakan website untuk divisi lain. Dan pekerjaan seperti ini tentu saja memakan waktu.

Kadang malah lebih lama dibanding membuat satu artikel.

Tapi masalahnya, pekerjaan tersebut ternyata tidak selalu terlihat.

Padahal saya membuat laporan pekerjaan setiap hari.

Saya menulis apa saja yang saya kerjakan hari itu. Termasuk kalau sedang mengerjakan sesuatu untuk divisi lain.

Lantas saya sempat mendapat penjelasan kalau direktur kadang hanya membaca laporan tersebut secara sekilas.

Di sini saya malah jadi bingung.

Kalau laporan pekerjaan harian hanya dibaca sekilas, bagaimana pekerjaan saya bisa diketahui?

Dan kalau akhirnya ada pekerjaan yang tidak diketahui, padahal sudah saya masukkan ke laporan, apakah masalahnya ada pada pekerja yang tidak melapor?

Atau pada laporan yang memang tidak benar-benar dibaca?

Invisible Work Tidak Selalu Menghasilkan Sesuatu yang Bisa Dilihat

Ada pekerjaan yang hasilnya gampang dilihat.

Saya membuat artikel, misalnya. Hasil akhirnya jelas. Ada tulisan yang bisa dibuka dan dibaca.

Begitu juga kalau desainer membuat poster atau editor menyelesaikan video.

Ada sesuatu yang bisa langsung ditunjukkan.

Tapi tidak semua pekerjaan seperti itu.

Ketika mengerjakan website, misalnya, kadang saya menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk memperbaiki sesuatu yang hasil akhirnya terlihat sederhana.

Bisa juga ada masalah yang harus dicari dulu penyebabnya.

Mungkin saya menghabiskan satu atau dua jam mengerjakan sesuatu. Tapi dari luar, perubahannya cuma terlihat seperti bagian kecil di sebuah halaman website.

Belum lagi waktu untuk komunikasi.

Ada orang yang meminta sesuatu, kemudian saya harus memahami kebutuhannya. Kadang harus tanya lagi. Setelah itu baru mulai mengerjakan.

Semua proses tersebut membutuhkan waktu.

Tapi kalau hanya melihat hasil akhirnya, seolah-olah pekerjaannya kecil.

Saya rasa ini salah satu alasan kenapa invisible work gampang sekali tidak disadari.

Yang terlihat hanyalah output terakhirnya.

Sementara proses di belakangnya tidak kelihatan.

Bahkan Tidak Bekerja Bisa Berarti Pekerjaannya Berhasil

Saya punya seorang teman yang bekerja sebagai engineer di salah satu provider besar di Indonesia.

Cara kerjanya menarik.

Kalau dia sampai harus banyak bekerja, justru berarti ada sesuatu yang tidak beres.

Ada masalah pada sistem yang harus diperbaiki.

Sebaliknya, kalau dia tidak banyak mengerjakan sesuatu, justru kondisinya semakin bagus.

Artinya sistem berjalan sebagaimana mestinya.

Dia bahkan hanya perlu datang ke kantor sekitar satu atau dua kali dalam seminggu. Sisanya bisa tinggal di Cianjur, memantau sistem, bersantai, bahkan sambil melanjutkan kuliah S2.

Kalau kita hanya menggunakan cara berpikir bahwa pekerjaan harus selalu menghasilkan sesuatu yang terlihat, orang seperti teman saya mungkin malah dianggap tidak bekerja.

Padahal justru pekerjaannya berhasil ketika tidak ada masalah.

Dia tetap memantau.

Tetap bertanggung jawab.

Tetap harus siap ketika terjadi gangguan.

Hanya saja hasil pekerjaannya bukan berupa sepuluh dokumen, lima desain atau beberapa artikel setiap hari.

Hasil pekerjaannya adalah sistem yang tetap berjalan.

Dan sesuatu yang berjalan dengan baik sering kali tidak menarik perhatian siapa pun.

Kita baru menyadari pentingnya pekerjaan tersebut ketika ada masalah.

Saya rasa banyak pekerjaan memang seperti itu.

Nilainya tidak selalu terlihat dari jumlah output.

Kadang nilainya justru terlihat dari masalah yang berhasil dicegah.

Laporan Harian yang Dibaca Sekilas

Sebenarnya saya tidak terlalu masalah kalau pekerjaan memang harus dilaporkan.

Saya sudah membuat laporan pekerjaan setiap hari.

Justru laporan tersebut seharusnya menjadi cara untuk melihat apa saja yang saya kerjakan.

Kalau hari itu saya menulis artikel, saya tulis.

Kalau sedang mengerjakan website, saya tulis juga.

Kalau ada pekerjaan lain, ya saya masukkan.

Masalahnya menjadi sedikit aneh ketika laporan tersebut ternyata hanya dibaca sekilas.

Karena akhirnya saya harus menjelaskan lagi pekerjaan yang sebenarnya sudah saya laporkan.

Buat saya, ini seperti membuat pekerjaan tambahan dari sesuatu yang seharusnya sudah selesai.

Saya sudah melakukan pekerjaan.

Kemudian saya membuat laporan tentang pekerjaan tersebut.

Lalu karena laporan tidak terbaca, saya harus menjelaskan lagi kalau ternyata saya juga melakukan pekerjaan lain.

Akhirnya, melaporkan pekerjaan juga menjadi sebuah pekerjaan.

Mungkin cuma beberapa menit.

Tapi tetap saja membutuhkan waktu dan perhatian.

Kalau terjadi terus-menerus, waktu kecil seperti ini akhirnya terkumpul juga.

BACA JUGA: 10 Tanda Kamu Adalah Insecure Leader, Bukan Great Leader

Saya Juga Tidak Mau Jadi Kurir Pesan Antar Divisi

Ada satu hal lain yang membuat saya kepikiran.

Ketika divisi lain meminta saya membantu mengerjakan sesuatu, saya sebenarnya sudah memberi tahu kepala divisi saya.

Saya bilang saya pergi ke divisi tertentu dan mereka meminta saya mengerjakan sesuatu.

Buat saya, informasi tersebut sudah cukup jelas.

Tapi kemudian seolah saya juga harus memastikan lagi bahwa permintaan dari divisi tersebut sudah diketahui.

Di sini saya sedikit bingung.

Kalau seorang kepala divisi membutuhkan bantuan tenaga dari divisi lain, bukankah seharusnya kepala divisi tersebut yang berkomunikasi dengan kepala divisi terkait?

Kenapa anggota tim yang kemudian harus menjadi perantara?

Saya dari awal sudah memberi tahu apa yang sedang terjadi.

Kalau masih ada sesuatu yang perlu dibicarakan soal pembagian pekerjaan, menurut saya tinggal dikomunikasikan antar kepala divisi.

Sederhana.

Daripada saya harus membawa pesan dari satu divisi ke divisi lain.

Kemudian kalau ada pertanyaan, saya kembali lagi.

Setelah ada jawaban, saya menyampaikan lagi.

Akhirnya saya bukan cuma mengerjakan pekerjaan yang diminta.

Saya juga jadi kurir pesan.

Dan lucunya, menjadi kurir pesan seperti ini juga termasuk invisible work.

Tidak menghasilkan artikel.

Tidak menghasilkan halaman website.

Tidak ada output yang bisa ditunjukkan.

Tapi tetap memakan waktu.

Kesibukan Kecil Ternyata Bisa Menghabiskan Banyak Waktu

Invisible Work, Kesibukan yang Menghabiskan Waktu tapi Tidak Terlihat sebagai Pekerjaan

Saya rasa masalah seperti ini bukan hanya terjadi di kantor saya.

Dalam pekerjaan digital, ada banyak sekali aktivitas kecil yang terlihat sepele.

Membalas pesan.

Menjelaskan sesuatu.

Mencari file.

Mengecek ulang pekerjaan.

Menunggu konfirmasi.

Memberikan laporan.

Memindahkan informasi dari satu orang ke orang lain.

Kalau satu per satu mungkin cuma beberapa menit.

Masalahnya, pekerjaan seperti ini jarang datang hanya sekali.

Sepanjang hari bisa ada banyak.

Dan setiap kali ada pekerjaan kecil masuk, fokus juga ikut berpindah.

Misalnya saya sedang menulis artikel.

Kemudian ada orang bertanya soal website.

Saya berhenti menulis dan mulai memikirkan website.

Setelah selesai, saya kembali ke artikel.

Belum tentu saya bisa langsung melanjutkan tulisan dari titik sebelumnya.

Kadang harus membaca beberapa paragraf lagi supaya ingat sedang membahas apa.

Lalu beberapa menit kemudian ada pesan lain.

Fokus pindah lagi.

Akhirnya seharian terasa sibuk.

Tapi ketika melihat hasil pekerjaan pada sore hari, output yang selesai mungkin tidak terlalu banyak.

Padahal waktu memang benar-benar habis.

Tidak Semua Jobdesk Bisa Dinilai dari Output

Di sinilah menurut saya penting untuk memahami pekerjaan setiap orang sebelum menilainya.

Saya memang bekerja di yayasan dan pesantren.

Bukan perusahaan teknologi besar.

Tapi prinsipnya menurut saya tetap sama.

Setidaknya, hargailah setiap jobdesk dan pahami apa sebenarnya pekerjaan masing-masing karyawan.

Karena setiap orang punya porsinya sendiri.

Ada pekerjaan yang menghasilkan sesuatu setiap hari.

Ada yang hasilnya baru terlihat setelah beberapa minggu.

Ada juga pekerjaan yang justru bagus ketika tidak ada sesuatu yang terjadi.

Bahkan kalau mau dibalik, hal yang sama sebenarnya berlaku untuk kepala divisi.

Apakah pekerjaan seorang kepala divisi selalu terlihat?

Tidak juga.

Salah satu tugas kepala divisi adalah melakukan pengawasan.

Tapi bagaimana cara melihat hasil dari sebuah pengawasan?

Apakah setiap kali mengawasi harus menghasilkan dokumen?

Apakah setiap keputusan harus menjadi sebuah output yang bisa dihitung?

Pada akhirnya, bukankah sebagian pekerjaan tersebut juga terlihat melalui laporan?

Seorang kepala divisi mungkin melakukan koordinasi, memastikan pekerjaan berjalan, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah antaranggota dan memantau progres.

Sebagian besar tidak menghasilkan sesuatu yang bisa langsung dipamerkan.

Tapi bukan berarti tidak bekerja.

Justru karena itulah menurut saya agak aneh kalau kita menggunakan standar output yang terlalu sederhana untuk menilai pekerjaan orang lain.

Kalau pekerjaan pengawasan bisa diterima sebagai pekerjaan meskipun hasilnya tidak selalu terlihat, hal yang sama seharusnya berlaku pada jobdesk lain.

Tidak semuanya bisa dinilai dengan pertanyaan:

Hari ini menghasilkan apa?

Kadang pertanyaan yang lebih masuk akal adalah:

Hari ini menangani apa?

Produktif Bukan Cuma Soal Berapa Banyak yang Selesai

Dulu saya juga sering melihat produktivitas dari jumlah pekerjaan yang selesai.

Kalau to do list penuh centang, berarti produktif.

Kalau cuma sedikit yang selesai, rasanya seperti kurang produktif.

Tapi semakin ke sini, saya merasa cara melihat produktivitas seperti itu terlalu sederhana.

Karena waktu kerja tidak hanya digunakan untuk pekerjaan yang ada di to do list.

Ada banyak pekerjaan kecil yang muncul sepanjang hari.

Dan semuanya tetap menggunakan energi.

Makanya, dua orang dengan output yang sama belum tentu punya beban kerja yang sama.

Seseorang mungkin bisa fokus mengerjakan satu pekerjaan dari pagi sampai siang.

Sementara orang lain harus mengerjakan pekerjaan yang sama sambil membalas pesan, membantu divisi lain, membuat laporan dan berpindah-pindah pekerjaan.

Hasil akhirnya mungkin kelihatan sama.

Tapi prosesnya berbeda.

Karena itu saya sekarang lebih tertarik melihat ke mana waktu saya habis daripada sekadar menghitung berapa banyak pekerjaan yang selesai.

Kalau satu hari ternyata tidak banyak pekerjaan besar yang selesai, saya bisa melihat lagi.

Apakah memang saya terlalu banyak menunda?

Atau sebenarnya hari itu penuh dengan pekerjaan kecil yang tidak tercatat?

Dua masalah tersebut tentu membutuhkan solusi yang berbeda.

Digital Minimalism Tidak Cuma Soal Mengurangi Screen Time

Hal seperti ini juga membuat saya melihat digital minimalism dari sudut yang sedikit berbeda.

Biasanya saya membahas digital minimalism dalam konteks teknologi pribadi.

Mengurangi scrolling media sosial, membatasi screen time atau mengurangi aplikasi yang tidak terlalu dibutuhkan.

Tapi sebenarnya prinsipnya bisa dipakai lebih luas.

Buat saya, salah satu hal menarik dari digital minimalism adalah mengurangi sesuatu yang tidak memberikan nilai sebanding dengan waktu dan perhatian yang kita berikan.

Dan ternyata prinsip tersebut juga masuk akal untuk pekerjaan.

Kalau sebuah informasi bisa disampaikan langsung, kenapa harus melewati banyak orang?

Kalau pekerjaan sudah ditulis dalam laporan, kenapa harus dijelaskan berulang kali?

Kalau dua kepala divisi bisa berkomunikasi langsung, kenapa anggota tim harus menjadi kurir pesan?

Setiap langkah tambahan mungkin terlihat kecil.

Tapi semakin banyak langkah, semakin banyak perhatian yang dibutuhkan.

Pada akhirnya pekerjaan sederhana malah terasa rumit.

Saya sendiri semakin merasa kalau produktivitas bukan selalu tentang mencari cara supaya bisa mengerjakan lebih banyak.

Kadang justru sebaliknya.

Mengurangi pekerjaan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.

BACA JUGA: Insecure Leader Memecat Orang Pintar, Pemimpin Hebat Mencetak Pengganti

Pekerjaan yang Tidak Terlihat Tetap Menggunakan Waktu

Invisible work mungkin memang tidak akan pernah sepenuhnya hilang.

Dalam pekerjaan tetap ada komunikasi, laporan, koordinasi dan berbagai hal kecil lainnya.

Semua itu memang dibutuhkan sampai batas tertentu.

Tapi menurut saya, kita tetap perlu sadar kalau pekerjaan seperti ini punya biaya.

Waktu yang digunakan untuk koordinasi tetaplah waktu kerja.

Waktu untuk berpindah fokus tetap menggunakan energi.

Begitu juga dengan waktu untuk menjelaskan ulang sesuatu yang sebenarnya sudah dilaporkan.

Dan pekerjaan tidak selalu harus menghasilkan sesuatu yang kasatmata agar bisa disebut pekerjaan.

Engineer yang membuat sistem tetap berjalan sedang bekerja.

Kepala divisi yang mengawasi tim sedang bekerja.

Orang yang berkoordinasi agar pekerjaan tidak berantakan juga sedang bekerja.

Begitu juga saya ketika mengerjakan website, memperbaiki sesuatu atau membantu pekerjaan divisi lain.

Hanya karena tidak menghasilkan sesuatu yang langsung terlihat, bukan berarti pekerjaan tersebut tidak ada.

Dan mungkin itu yang sedikit membuat saya kesal pagi tadi.

Bukan semata-mata karena pekerjaan saya tidak terlihat.

Tapi karena pekerjaan yang sudah saya lakukan bisa seolah tidak ada hanya karena tidak menghasilkan output yang mudah dilihat.

Padahal waktunya tetap habis.

Energinya tetap digunakan.

Dan saya tetap mengerjakannya.

Akhirnya saya sadar, salah satu bagian penting dari produktivitas bukan hanya soal mengatur waktu.

Tapi juga memahami ke mana sebenarnya waktu itu pergi.

Karena bisa saja masalahnya bukan kita kurang produktif.

Mungkin terlalu banyak pekerjaan yang sebenarnya kita kerjakan, tapi tidak pernah terlihat sebagai pekerjaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *