Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah postingan di media sosial. Saya sudah lupa siapa yang menulis dan bagaimana persisnya kalimat dalam postingan tersebut. Tapi kurang lebih isinya mempertanyakan satu hal: kapan kita bisa memenangkan semua hal seperti orang lain?
Pertanyaan semacam ini rasanya cukup sering muncul di kepala kita.
Ketika melihat teman punya bisnis yang sedang berkembang, omzetnya naik, bisa membeli ini dan itu, kita langsung berpikir, “Kapan ya saya bisa kayak gitu?”
Ketika melihat orang lain punya karier bagus, gajinya besar, tiap beberapa bulan bisa jalan-jalan ke luar negeri, pikiran yang sama muncul lagi.
Kapan saya bisa seperti dia?
Masalahnya, apakah memang ada orang yang bisa memenangkan semua hal dalam hidupnya?
Saya rasa nggak ada.
Kita cuma melihat bagian hidup orang lain yang sedang menang
Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat seperti sebuah etalase.
Kita melihat teman yang bisnisnya sedang bagus ketika dia mengunggah pencapaiannya. Kita melihat orang yang baru membeli rumah ketika dia mengunggah foto rumah tersebut. Kita melihat seseorang pergi liburan ketika dia sedang berada di Bali, Jepang, atau entah di mana.
Yang kita lihat adalah bagian hidupnya yang sedang bagus.
Dan kemudian kita membandingkannya dengan seluruh kehidupan kita sendiri.
Ya jelas kalah.
Kita nggak tahu mungkin orang yang bisnisnya sedang bagus tadi harus bekerja dari pagi sampai malam. Ketika kita sedang santai minum kopi selepas Magrib, dia mungkin masih membuka laptop sambil memikirkan invoice, klien, stok barang, karyawan, sampai tagihan bulan depan.
Kita melihat pemasukannya.
Kita nggak melihat apa yang dia korbankan untuk mendapat pemasukan tersebut.
Sebaliknya, mungkin ketika dia melihat kehidupan kita yang kelihatannya biasa-biasa saja, justru ada hal yang dia inginkan.
Misalnya waktu luang.
Saat kita masih bisa membaca buku sore-sore, tidur cukup, nongkrong bersama teman, atau pulang kerja tanpa membawa urusan kantor ke rumah, bisa jadi ada orang lain yang melihat kehidupan kita lalu berpikir, “Enak ya punya banyak waktu.”
Lucunya, kita justru sedang melihat kehidupannya sambil berpikir sebaliknya.
“Enak ya punya banyak uang.”
BACA JUGA: Mengingat Masa Jadi Wartawan Lebih Menyenangkan daripada Mengulanginya Lagi
Semua hal punya trade-off
Semakin ke sini saya merasa hampir semua pilihan hidup memang punya trade-off.
Kita memilih sesuatu, biasanya ada sesuatu yang lain yang harus dikorbankan.
Mau membangun bisnis besar? Kemungkinan waktu dan pikiran akan banyak tersedot ke sana.
Mau mengejar karier secepat mungkin? Bisa jadi waktu bersama keluarga dan teman menjadi lebih sedikit.
Mau punya banyak waktu luang? Bisa jadi kita harus menerima bahwa penghasilan kita nggak sebesar orang yang bekerja dua belas jam sehari.
Tentu saja bukan berarti semua orang kaya pasti nggak bahagia atau semua orang yang punya banyak waktu luang pasti miskin. Hidup jelas nggak sesederhana itu.
Tapi rasanya sulit sekali mendapatkan semuanya sekaligus.
Bahkan orang yang sudah terlahir kaya sekalipun belum tentu memenangkan semua hal.
Dia mungkin nggak pernah pusing memikirkan cicilan rumah, biaya pendidikan, atau harga sembako yang naik. Tapi bisa saja dia justru nggak pernah merasakan kehangatan keluarga seperti orang lain yang hidupnya jauh lebih sederhana.
Ada orang yang punya uang tapi kekurangan waktu.
Ada yang punya waktu tapi kekurangan uang.
Ada yang kariernya bagus tapi hubungan keluarganya berantakan.
Ada juga yang hidupnya sederhana, pekerjaannya biasa saja, tapi setiap malam masih bisa makan bersama keluarga dengan tenang.
Dan tentu saja kadang ada orang yang kelihatannya punya semuanya.
Nah, yang beginian memang agak ngeselin.
Tapi lagi-lagi, kita nggak pernah benar-benar tahu seluruh kehidupan seseorang.
BACA JUGA: Invisible Work, Kesibukan yang Menghabiskan Waktu tapi Tidak Terlihat sebagai Pekerjaan
Kita memang nggak bisa memenangkan semuanya
Saya akhirnya sadar bahwa mungkin masalahnya bukan hidup kita yang kurang bagus. Kita saja yang terlalu sering melihat bagian terbaik kehidupan orang lain.
Apalagi sekarang semuanya bisa dilihat lewat layar berukuran beberapa inci.
Setiap membuka media sosial, kita bisa melihat orang menikah, membeli rumah, naik jabatan, membuka bisnis, punya anak, jalan-jalan, membeli kendaraan baru, sampai mencapai hal-hal yang mungkin sedang kita perjuangkan.
Kalau semuanya dibandingkan dengan kehidupan sendiri, tentu capek.
Padahal bisa jadi pada saat bersamaan ada sesuatu dalam kehidupan kita yang justru sedang diinginkan orang lain.
Mungkin pekerjaan kita memang belum menghasilkan uang sebanyak orang lain, tapi kita masih punya waktu bersama keluarga.
Mungkin kita belum punya rumah sendiri, tapi hidup kita nggak dikejar-kejar cicilan selama dua puluh tahun.
Mungkin karier kita biasa saja, tapi setiap malam masih bisa tidur dengan kepala relatif tenang.
Hal-hal seperti ini sering kali baru terasa berharga ketika sudah hilang.
Makanya saya mulai merasa bahwa hidup nggak perlu selalu diperlakukan seperti kompetisi yang semua kategorinya harus kita menangkan.
Memang nggak bisa.
Kita hanya bisa memilih kemenangan mana yang paling penting untuk kita kejar dan konsekuensi apa yang sanggup kita terima.
Sisanya, ya sudah.
Syukuri dulu apa yang sekarang kita punya.
Kalau masih ada sesuatu yang ingin dicapai, besok ikhtiar lagi.


Leave a Reply