Mengingat Masa Jadi Wartawan Lebih Menyenangkan daripada Mengulanginya Lagi


Mengingat Masa Jadi Wartawan Lebih Menyenangkan daripada Mengulanginya Lagi

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan dua teman lama, Wawan dan Jon. Keduanya sama-sama masih berkecimpung di dunia yang dulu cukup lama saya jalani: jurnalistik.

Wawan sudah menjadi jurnalis di beberapa media lokal dan sampai sekarang masih aktif. Sementara Jon sekarang bekerja di salah satu media lokal setelah sebelumnya cukup lama berkecimpung sebagai kontributor untuk media nasional dan regional.

Nasib Jon agak apes.

Media regional tempat dia bekerja dulu tiba-tiba kolaps. Kantornya yang sebelumnya megah berlantai tiga kini pindah ke sebuah rumah kontrakan. Jon kena layoff dan akhirnya pindah ke media lokal.

Mendengar cerita itu, saya sebetulnya nggak terlalu terkejut. Beberapa tahun terakhir, cerita tentang PHK di industri media sudah terlalu sering terdengar. Media online kena, media cetak apalagi, bahkan televisi yang dulu kelihatannya begitu perkasa juga nggak luput.

Jon kemudian bercerita tentang salah satu temannya yang masih bekerja sebagai wartawan media nasional. Dia sekarang harus mengurus regional sendirian.

Lucunya, medianya berbasis subscription. Pembaca harus membayar untuk menikmati konten mereka, tetapi wartawannya masih meminta berita kepada wartawan media lokal yang beritanya bisa dibaca gratis.

Saya agak bingung mau tertawa atau prihatin mendengarnya.

Obrolan bersama Wawan dan Jon itu akhirnya membawa saya mengingat masa-masa ketika masih aktif menjadi wartawan. Masa yang kalau dikenang memang menyenangkan.

Tapi kalau disuruh mengulanginya lagi?

Kayaknya nggak dulu.

BACA JUGA: Invisible Work, Kesibukan yang Menghabiskan Waktu tapi Tidak Terlihat sebagai Pekerjaan

Dulu menjadi wartawan memang menyenangkan

Mengingat Masa Jadi Wartawan Lebih Menyenangkan daripada Mengulanginya Lagi

Saya nggak akan munafik dengan bilang bahwa menjadi wartawan adalah masa yang buruk dalam hidup saya. Justru sebaliknya.

Ada banyak keseruan yang sampai sekarang masih saya rindukan.

Bertemu banyak orang, datang ke tempat-tempat yang sebelumnya nggak pernah saya pikirkan, mengikuti diskusi, bertanya kepada pejabat, ngobrol dengan masyarakat, sampai pulang malam setelah liputan merupakan bagian dari hidup saya waktu itu.

Idealisme saya juga masih kuat.

Tanggungan hidup belum sebanyak sekarang. Jadi ketika mendapatkan gaji yang kalau dihitung-hitung masih di bawah standar, saya nggak terlalu mempermasalahkannya.

Namanya juga masih muda.

Selama masih bisa ngopi, beli bensin, makan, dan sesekali nongkrong bersama teman-teman wartawan, rasanya hidup sudah cukup.

Saya merasa sedang melakukan sesuatu yang penting.

Ada kepuasan tersendiri ketika melihat berita yang saya tulis dibaca orang. Apalagi kalau tulisan itu membicarakan persoalan masyarakat atau sesuatu yang sebelumnya nggak mendapatkan perhatian.

Pada masa itu, idealisme masih bisa menutupi banyak kekurangan.

Sayangnya, idealisme nggak selamanya bisa membayar tagihan.

Semakin lama berada di dalam industri media, saya mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang nggak sehat.

Dan masalahnya bukan cuma soal gaji.

BACA JUGA: 10 Tanda Kamu Adalah Insecure Leader, Bukan Great Leader

Budaya wartawan lokal yang bikin saya nggak nyaman

Saya pernah menulis dan berbicara tentang ini beberapa kali. Salah satu hal yang membuat saya akhirnya menjauh dari profesi wartawan adalah budaya sebagian jurnalis lokal yang menurut saya terlalu mirip ormas.

Datang bergerombol.

Menekan narasumber.

Kadang bertingkah seolah-olah kartu pers adalah kartu sakti.

Belum lagi kebiasaan menerima uang bensin dari narasumber setelah liputan.

Saya nggak mau sok suci. Sebab dulu saya juga pernah menjadi bagian dari kebiasaan seperti itu.

Saya pernah menerima uang bensin. Saya pernah menikmati fasilitas dari narasumber. Saya juga pernah berada dalam situasi ketika wartawan datang bersama-sama dan sikap kami mungkin memang terlihat seperti kelompok yang sedang memberikan tekanan.

Waktu itu saya sering berpikir sederhana.

Ya mau bagaimana lagi? Butuh uang.

Gaji wartawan media lokal waktu itu nggak besar (mungkin sampai sekarang). Bahkan ada yang penghasilannya sangat bergantung pada hal-hal seperti ini.

Kalau dari kantor saja kebutuhan hidup belum bisa tercukupi, godaan menerima pemberian dari narasumber tentu semakin besar.

Saya mengerti kenapa budaya itu bisa tumbuh.

Masalahnya, memahami bukan berarti saya ingin terus menjalaninya.

Entah kenapa, hati nurani saya selalu berkata lain.

Ada perasaan nggak nyaman setiap kali pulang dari liputan membawa amplop atau uang bensin. Apalagi ketika pemberian seperti itu perlahan dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Lebih parah lagi kalau akhirnya muncul anggapan bahwa narasumber memang seharusnya memberikan sesuatu kepada wartawan.

Saya mulai berpikir, kalau seperti ini terus, sampai kapan?

Di satu sisi saya masih mencintai jurnalistik. Di sisi lain saya mulai nggak nyaman dengan lingkungan yang saya jalani.

Ditambah lagi, penghasilan seret.

Kombinasi yang sempurna untuk membuat seseorang mulai membuka situs lowongan kerja.

BACA JUGA: Sejak Punya Nintendo DS Lite, Waktu Saya untuk Scrolling Media Sosial Semakin Sedikit

Saya mulai mencium bau-bau bencana media

Mengingat Masa Jadi Wartawan Lebih Menyenangkan daripada Mengulanginya Lagi

Saat masih aktif menjadi wartawan, saya juga perlahan mulai mencium sesuatu yang kurang enak dari industri media.

Bisnisnya semakin berat.

Jumlah media bertambah, tetapi uang yang berputar nggak selalu ikut bertambah. Media berlomba membuat berita sebanyak mungkin. Wartawan dituntut produktif. Sementara kualitas hidup orang-orang yang membuat berita sering kali nggak banyak berubah.

Belakangan, cerita Wawan dan Jon membuat kekhawatiran saya dulu terasa semakin masuk akal.

Kantor media bisa tutup. Wartawan bisa kena layoff. Satu orang bisa disuruh mengurus wilayah yang sebelumnya dikerjakan beberapa orang.

Sampai sekarang saya melihat kondisi media lokal juga masih jauh dari ideal.

Bahkan dalam beberapa hal mungkin semakin menjauh.

Kebiasaan-kebiasaan buruk wartawan yang dulu saya temui masih terasa. Bisa jadi sekarang malah semakin masif karena tekanan ekonomi media juga semakin besar.

Sekali lagi, saya nggak sedang berdiri di tempat tinggi lalu menunjuk orang lain.

Saya pernah berada di sana.

Saya pernah menjadi bagian dari sistem itu dan, harus saya akui, pernah menikmatinya juga.

Hanya saja, semakin lama saya sadar bahwa saya nggak mungkin terus terjerumus ke dalam sesuatu yang sebenarnya membuat diri sendiri nggak nyaman.

Akhirnya saya mulai mencari jalan lain.

BACA JUGA: 10 Rahasia Mengatasi Overthinking yang Jarang Diketahui

Dari wartawan belajar media sosial dan web development

Saya mulai belajar banyak hal di luar jurnalistik.

Awalnya media sosial.

Kemudian saya belajar web development.

Saya mulai mengambil pekerjaan freelance, mencoba beberapa kesempatan yang datang, sampai akhirnya perlahan banting setir sepenuhnya dari pekerjaan wartawan lapangan.

Nggak ada momen dramatis seperti di film ketika saya meletakkan kartu pers di atas meja lalu berkata, “Saya berhenti!”

Nggak ada.

Perubahannya berjalan perlahan.

Satu pekerjaan datang, kemudian pekerjaan lain. Saya belajar hal baru, gagal, mencoba lagi, mendapatkan kesempatan lain, lalu tiba-tiba saya sadar bahwa kehidupan saya sudah cukup jauh dari rutinitas wartawan.

Mungkin cara saya menjalani karier memang cukup pragmatis.

Saya mencari pekerjaan yang bisa membuat hidup lebih baik dan memberikan ruang untuk berkembang.

Tapi saya juga nggak terlalu ambisius.

Saya nggak punya target harus menjadi orang paling sukses di bidang tertentu sebelum usia sekian. Saya juga nggak terlalu tertarik mengikuti lomba karier yang entah garis finisnya di mana.

Yang penting terus berkembang.

Belajar sesuatu.

Mencari kesempatan yang ada.

Dan tentu saja, tetap bisa hidup dengan cukup tenang.

Web development akhirnya menjadi salah satu jalan yang saya pilih. Dunia yang sangat berbeda dengan jurnalistik, tetapi anehnya banyak kemampuan dari pekerjaan lama yang tetap terpakai.

Kemampuan mencari informasi, menyusun sesuatu secara sistematis, bertanya, melakukan verifikasi, sampai memahami kebutuhan orang lain masih sering saya gunakan.

Bedanya, sekarang saya lebih sering menatap kode daripada mengejar narasumber.

BACA JUGA: 10 Ciri-Ciri Otak Kamu Sudah Rusak dan Perlu Direset

Saya ternyata nggak pernah benar-benar meninggalkan jurnalistik

Mengingat Masa Jadi Wartawan Lebih Menyenangkan daripada Mengulanginya Lagi

Kalau sekarang ada yang bertanya apakah saya ingin kembali menjadi wartawan, jawaban saya agak rumit.

Saya kangen.

Tapi belum tentu ingin kembali.

Saya kangen keseruannya. Kangen datang ke diskusi, ngobrol dengan banyak orang, menemukan cerita, kemudian pulang dan menuliskannya.

Saya kangen perasaan ketika menemukan informasi menarik yang belum banyak diketahui orang.

Tapi kalau harus kembali menjalani rutinitasnya seperti dulu, sepertinya tidak.

Ada perbedaan besar antara merindukan sesuatu dan ingin mengulanginya.

Lagi pula, saya sebenarnya nggak pernah benar-benar meninggalkan jurnalistik.

Media yang dulu saya bangun bersama beberapa kawan sampai sekarang masih saya rawat. Kadang saya masih menulis berita. Kadang menerima press release. Sesekali datang ke undangan diskusi kalau topiknya menarik dan waktunya memungkinkan.

Hanya saja, saya sudah nggak aktif berada di lapangan setiap hari.

Saya muncul pada saat-saat tertentu saja.

Bahkan dari media itu saya nggak menerima gaji. Saya tetap merawatnya karena memang menyenanginya.

Mungkin hubungan saya dengan jurnalistik sekarang justru lebih sehat dibandingkan dulu.

Saya bisa menikmati bagian yang saya sukai tanpa harus terlalu banyak berhadapan dengan bagian yang membuat saya ingin menjauh.

Setelah bertemu Wawan dan Jon, saya semakin sadar bahwa masa menjadi wartawan memang menyenangkan untuk dikenang.

Pada waktu itu idealisme masih tinggi, tanggungan masih sedikit, dan gaji di bawah standar pun masih bisa ditoleransi atas nama pengalaman.

Sekarang hidup sudah berbeda.

Kebutuhan berbeda.

Cara memandang pekerjaan juga berbeda.

Jadi kalau ditanya apakah saya menyesal pernah menjadi wartawan, tentu saja tidak.

Justru banyak hal yang saya kerjakan sekarang berangkat dari apa yang saya pelajari di sana.

Saya belajar menulis karena jurnalistik. Saya belajar mencari informasi karena jurnalistik. Saya belajar bertemu dan berbicara dengan berbagai macam orang juga karena jurnalistik.

Bahkan setelah banting setir menjadi web developer sekalipun, cara berpikir yang dibentuk selama menjadi wartawan masih sering muncul ketika bekerja.

Ilmunya selalu terpakai.

Mungkin profesinya yang saya tinggalkan, tetapi jurnalistiknya tidak.

Makanya saya lebih senang mengingat masa menjadi wartawan daripada harus mengulanginya lagi.

Untuk dikenang, menyenangkan.

Untuk dijalani lagi setiap hari?

Nggak dulu.

Dukung saya agar terus membuat tulisan yang bermanfaat melalui QRIS di bawah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *