Saya bukan web developer yang tumbuh dari jalur linear. Bahkan kalau melihat perjalanan saya sampai bisa mengerjakan web seperti sekarang, rasanya agak muter-muter.
Saya kuliah sambil bekerja sebagai wartawan. Lulusnya pun dari jurusan manajemen, bukan Teknik Informatika atau jurusan lain yang dekat dengan dunia pemrograman. Setelah itu saya bergeser ke SEO, lalu media sosial, WordPress, sampai akhirnya sekarang banyak mengerjakan web development dengan bantuan AI.
Jadi, kalau ditanya saya ini programmer atau bukan, kadang saya sendiri bingung menjawabnya.
Kemampuan teknis saya juga nggak sampai yang bikin orang melongo. Saya mentok di HTML, CSS, JavaScript, beberapa framework PHP, cPanel, dan sedikit utak-atik VPS. Nggak semua saya kuasai secara mendalam.
Dulu mungkin ada batas yang terasa jelas antara junior dan senior engineer. Orang yang menguasai lebih banyak bahasa pemrograman, hafal banyak sintaks, atau bisa mengerjakan hal-hal teknis yang rumit terasa berada beberapa tingkat di atas.
Tapi sekarang, buat saya, batas itu semakin bias.
Bukan berarti kemampuan teknis sudah nggak penting. Hanya saja dengan adanya AI, saya nggak harus mendalami semuanya sekaligus sebelum bisa mengerjakan sesuatu.
Dan di sinilah saya merasa menjadi vibe coder sebenarnya nggak masalah.
BACA JUGA: Industri Media Lagi Badai, Bagaimana Prospek Kerja Ilmu Komunikasi?
Vibe coder harus berhenti memikirkan alat
Perubahan terbesar yang saya rasakan justru bukan pada kemampuan menulis kode, melainkan cara berpikir.
Dulu ketika menemukan sebuah masalah, saya sering mentok di alat.
Pakai apa, ya? Framework apa? Bahasa pemrogramannya apa? Bisa nggak saya bikin ini kalau kemampuan saya cuma segini?
Sekarang pertanyaan seperti itu mulai saya taruh belakangan.
Setiap ada klien yang datang, hal pertama yang saya tanyakan justru masalahnya apa. Bagian mana dari pekerjaannya yang ingin dipermudah. Apa yang selama ini merepotkan dan kira-kira bisa diselesaikan dengan web yang saya buat.
Sebab pada akhirnya, klien juga nggak terlalu peduli saya mengerjakan websitenya dengan teknologi apa.
Mereka nggak datang lalu bertanya saya menulis berapa ratus baris kode hari ini. Mereka juga nggak peduli saya pakai tools yang kelihatan canggih atau teknologi yang sedang ramai dibicarakan.
Mereka hanya ingin satu hal, yakni masalahnya selesai.
Karena itu, menurut saya seorang vibe coder harus punya pola pikir problem-first.
Bukan lagi berangkat dari keinginan membuat sesuatu yang terlihat keren atau canggih, lalu sibuk mencari kegunaannya. Justru sebaliknya. Cari dulu masalah yang ingin diselesaikan, baru pikirkan bagaimana teknologi bisa membantu.
Pertanyaannya berubah dari, “Saya bisa bikin apa dengan AI?” menjadi, “Masalah apa yang bisa saya selesaikan?”
Atau lebih sederhana lagi, “Apa yang bisa saya buat untuk mempermudah pekerjaan orang?”
Buat saya, perubahan pola pikir seperti ini jauh lebih penting daripada sibuk mengejar semua teknologi yang terus bermunculan.
BACA JUGA: Kita Sering Salah Meniru Orang Hebat, yang Ditiru Malah Barangnya
Tapi vibe coder tetap wajib belajar
Meski begitu, memakai AI bukan berarti kita cuma duduk, memberikan perintah, lalu copy-paste apa pun yang keluar dari layar.
Kalau begitu caranya, saya rasa kita justru sedang membuat diri sendiri bergantung penuh pada mesin.
Saya tetap belajar.
Framework-framework yang saya temui tetap saya pahami. Bahasa pemrograman lain tetap saya pelajari sedikit demi sedikit. Ketika AI menghasilkan sesuatu, saya berusaha mengerti apa yang sedang dikerjakannya dan kenapa menggunakan cara tersebut.
Saya memang nggak harus menguasai semuanya sekaligus. Tapi setidaknya saya harus punya pemahaman terhadap apa yang saya kerjakan.
Sebab AI seharusnya memperluas kemampuan kita, bukan membuat kita berhenti belajar.
Buat saya, menjadi vibe coder bukan berarti menyerahkan seluruh pekerjaan kepada AI. Justru karena alatnya semakin pintar, manusianya harus semakin tahu apa yang ingin diselesaikan.
Jadi, saya nggak terlalu mempermasalahkan apakah seseorang sekarang disebut programmer, web developer, junior, senior, atau sekadar vibe coder.
Selama dia bisa memahami masalah, mencari cara untuk menyelesaikannya, dan tetap mau belajar, gelar semacam itu rasanya nggak terlalu penting.
AI tetaplah mesin.
Kitalah yang harus memperalat mesin untuk menyelesaikan masalah. Jangan sampai malah mesin yang memperalat manusia.


Leave a Reply