Setiap melihat karya bagus di internet, saya sering penasaran dengan alat yang dipakai pembuatnya. Kalau melihat sebuah desain yang tampilannya bersih dan enak dipandang, saya ingin tahu font yang digunakan. Kalau melihat foto yang warnanya cantik, saya mulai mencari tahu kamera dan lensanya. Seolah-olah setelah memakai barang yang sama, hasil karya saya bisa mendadak sebagus itu.
Kebiasaan semacam ini sebenarnya cukup wajar. Manusia memang lebih mudah tertarik pada sesuatu yang terlihat. Kita bisa melihat kamera yang dikalungkan seorang fotografer, laptop yang dipakai desainer, merek kuas milik pelukis, sampai aplikasi yang digunakan seorang penulis.
Semua itu kelihatan. Bisa dicari di Google, ditonton ulasannya di YouTube, lalu dibeli kalau tabungan mencukupi.
Masalahnya, hal-hal yang terlihat itu belum tentu menjadi alasan mengapa karya mereka bagus.
BACA JUGA: Kita Memang Nggak Bisa Memenangkan Semua Hal dalam Hidup
Kita Hanya Melihat Alat yang Mereka Gunakan
Seorang fotografer yang fotonya viral mungkin memang menggunakan kamera seharga puluhan juta rupiah. Namun, ketika mengambil gambar, ia barangkali tidak terlalu sibuk memikirkan merek kameranya. Ia memikirkan arah cahaya, komposisi, momen, dan cerita yang ingin disampaikan lewat foto tersebut.
Hal-hal semacam itu tidak tercetak pada bodi kamera.
Begitu pula dengan pelukis yang karyanya terjual hingga jutaan rupiah. Kita mungkin tertarik mencari tahu merek kuas dan cat yang ia gunakan. Padahal, yang membuat lukisannya berharga bukan tulisan merek pada gagang kuasnya. Ada konsep, ide, teknik, dan pengalaman panjang yang tidak ikut terpajang ketika kita melihat hasil akhirnya.
Kita akhirnya terjebak meniru sesuatu yang paling mudah dilihat. Membeli alat yang sama terasa jauh lebih gampang daripada menjalani proses yang sama.
Saya kira, ini juga terjadi pada banyak bidang lain. Kita melihat tulisan seorang penulis enak dibaca, lalu sibuk mencari aplikasi menulis yang ia gunakan. Kita melihat desain seseorang terlihat profesional, lalu mengunduh font yang sama. Kita berharap kualitas karya itu ikut terpasang bersama aplikasi atau masuk ke komputer setelah file font selesai diinstal.
Tentu saja kenyataannya tidak semudah itu.
BACA JUGA: Mengingat Masa Jadi Wartawan Lebih Menyenangkan daripada Mengulanginya Lagi
Ada proses panjang yang tidak ikut terlihat
Ketika seseorang sudah berada di tahap mahir, gerakannya memang terlihat mudah. Fotografer seolah hanya perlu menekan tombol rana. Pelukis seperti tinggal menggerakkan kuas. Penulis tampak hanya duduk, mengetik beberapa paragraf, lalu menerbitkannya.
Kita tidak melihat berapa banyak foto gagal yang pernah mereka ambil. Kita juga tidak tahu berapa kanvas yang berakhir mengecewakan atau berapa tulisan yang dibuang karena terasa jelek sekali.
Hasil akhir selalu terlihat lebih rapi karena keringat, kesalahan, dan rasa frustrasinya sudah disembunyikan di belakang layar.
Orang-orang hebat bukan sekadar memiliki bakat atau peralatan yang bagus. Ada waktu bertahun-tahun yang mereka habiskan untuk berlatih. Ada pekerjaan yang diulang ketika orang lain sudah bosan. Bahkan, mungkin ada darah dan keringat yang dicurahkan sampai akhirnya kemampuan itu terlihat seperti sesuatu yang alami.
BACA JUGA: Invisible Work, Kesibukan yang Menghabiskan Waktu tapi Tidak Terlihat sebagai Pekerjaan
Menjadi hebat sama seperti belajar motor manual
Belajar membuat karya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan belajar mengendarai motor manual. Pada awalnya, kita akan sibuk memikirkan banyak hal. Kapan harus menarik kopling, kapan mengganti gigi, dan bagaimana caranya agar mesin tidak mati di tengah jalan.
Semakin sering berlatih, semua gerakan itu semakin terasa biasa. Tangan dan kaki bergerak tanpa perlu terlalu banyak dipikirkan. Kita menjadi mahir bukan karena membeli motor yang sama dengan pembalap, melainkan karena terus mengendarainya.
Begitu pula dengan menulis, memotret, melukis, atau mendesain. Peralatan memang bisa membantu, tetapi ia tidak bisa menggantikan jam latihan.
Jadi, kalau ingin meniru orang yang kita kagumi, barangkali yang perlu ditiru bukan kamera, font, kuas, atau laptopnya. Tirulah kebiasaan mereka belajar, kesediaan mereka mengulang pekerjaan, dan ketekunan mereka melewati proses yang membosankan.
Sebab, alat yang hebat bisa dibeli dalam beberapa menit. Kemampuan untuk menghasilkan karya hebat tetap harus dibangun selama bertahun-tahun.


Leave a Reply