Industri Media Lagi Badai, Bagaimana Prospek Kerja Ilmu Komunikasi?


Industri Media Lagi Badai, Bagaimana Prospek Kerja Ilmu Komunikasi?

Beberapa waktu lalu saya menulis tentang masa-masa menjadi wartawan yang lebih menyenangkan untuk dikenang daripada dijalani lagi.

Tulisan itu berangkat dari pertemuan saya dengan dua teman lama yang sampai sekarang masih berkecimpung di industri media. Kami ngobrol soal media yang kolaps, wartawan yang kena layoff, sampai bagaimana pekerjaan jurnalistik sekarang rasanya semakin berat.

Ketika tulisan itu saya lempar ke Threads, ternyata lumayan ramai.

Ada satu komentar yang kemudian membuat saya memikirkan persoalan lain.

“Kakak yg di media bingung bisnisnya yg bikin linglung. Gimana yg di kampus bingung buat kurikulum ttg ilmu komunikasi karena sudah makin tidak punya gigi, akibat industri media stuck oleh aturan rezimnya.”

Saya cuma membalas, “Wah iya juga ya. Kayaknya udah mulai berbenah untuk bikin pembaruan di industri media.”

Padahal sebetulnya saya juga bingung mau berbenah dari mana. Wkwkwk.

Dia kemudian membalas lagi.

“Sudah musti repositioning yg tidak bisa hilang di media adalah kreativitas yg berhubungan dgn akal. Itu yg Ndak bisa diambil AI. Sisanya antara jurnalistik, broadcast musti bisa mix Karena basisnya konten bukan berita lagi.”

Nah.

Dari sana kekhawatiran saya malah berpindah.

Kalau orang-orang yang sudah bekerja di media saja bingung melihat industrinya mau dibawa ke mana, bagaimana dengan mahasiswa ilmu komunikasi yang sekarang masih duduk di bangku kuliah?

Bagaimana prospek kerja ilmu komunikasi beberapa tahun lagi?

BACA JUGA: Kita Sering Salah Meniru Orang Hebat, yang Ditiru Malah Barangnya

Mahasiswa ilmu komunikasi nanti mau jadi apa?

Menurut saya, ilmu komunikasi merupakan jurusan yang sangat generic.

Kadang malah terasa setengah-setengah. Hehehe.

Di dalamnya ada jurnalistik, broadcasting, public relations, periklanan, media, dan berbagai cabang lainnya. Semuanya dipelajari, tetapi dunia profesional di masing-masing bidang sudah berubah begitu cepat.

Kalau mau menjadi wartawan, industrinya sedang dihantam badai.

Kalau mau menjadi humas, pasar kerjanya tentu tidak sebanyak jumlah mahasiswa komunikasi yang lulus setiap tahun.

Akhirnya ada yang bersaing menjadi content creator, masuk marketing, membuka bisnis, atau belajar kemampuan lain supaya punya ilmu yang lebih spesifik.

Sebetulnya itu juga nggak salah.

Masalahnya kemudian muncul pertanyaan yang cukup mengganggu saya.

Kalau begini terus, siapa yang mau jadi jurnalis?

Saya beberapa kali mengajar ekskul jurnalistik di sekolah tempat saya bekerja. Anehnya, setiap mengajar saya juga sering bingung.

Mau mengajarkan 5W+1H?

Ya jelas.

Teknik wawancara?

Bisa.

Menulis berita?

Oke.

Lalu setelah itu apa?

Jurnalisme digital? Sekarang digerus AI dan media sosial.

Jurnalistik media sosial?

Hahahaha.

Saya sendiri dulu memang bukan kuliah di jurusan ilmu komunikasi. Saya malah masuk ke dunia manajemen dan marketing. Tapi basic pendidikan ekskul saya sejak sekolah dan pekerjaan pertama saya sangat jurnalistik.

Kurang lebih tiga tahun saya menjadi wartawan lapangan.

Sampai sekarang pun saya masih ikut merawat sebuah media lokal bersama teman-teman.

Dan lucunya, setelah berada cukup lama di dalamnya, saya juga nggak punya jawaban pasti soal industri ini mau dibawa ke mana.

BACA JUGA: Kita Memang Nggak Bisa Memenangkan Semua Hal dalam Hidup

Prospek kerja ilmu komunikasi dan masalah regenerasi jurnalis

Hal yang membuat saya cukup khawatir bukan hanya soal bisnis media.

Saya juga memikirkan regenerasinya.

Kalau anak-anak muda semakin tidak tertarik menjadi wartawan, akan seperti apa profesionalitas jurnalistik beberapa tahun lagi?

Lebih mengerikan lagi kalau akhirnya orang tertarik menjadi wartawan bukan karena jurnalistiknya, melainkan karena melihat ada cara mendapatkan uang instan melalui profesi ini dengan cara-cara yang nggak profesional.

Kalau regenerasinya seperti itu, marwah jurnalistik mau dicari ke mana lagi?

Saya bukan orang yang baru kemarin sore memikirkan bisnis media.

Sejak sekitar lima tahun lalu saya sudah beberapa kali mengusulkan dan merumuskan model bisnis untuk media yang saya kelola bersama teman-teman.

Masalahnya selalu klasik.

Resource susah.

Modal engap-engapan.

Lima tahun kemudian tantangannya malah semakin rumit karena sekarang hampir semuanya berpusat pada AI dan media sosial.

Produk jurnalistik bahkan semakin banyak didistribusikan melalui platform yang bukan milik perusahaan media itu sendiri.

Kita boleh punya akun Instagram dengan jutaan followers.

Tapi Instagram tetap bukan punya kita.

Kalau Meta mau memblokir akun tersebut, ya diblokir. Kalau suatu hari Instagram ditutup, ya selesai.

Media hanya numpang jualan di lapak orang.

BACA JUGA: Invisible Work, Kesibukan yang Menghabiskan Waktu tapi Tidak Terlihat sebagai Pekerjaan 

Mungkin kurikulum ilmu komunikasi memang harus berubah

Belakangan saya melihat sejumlah media mulai menggunakan crowdfunding untuk membantu operasional sekaligus menjaga independensi.

Apakah efektif?

Saya nggak tahu.

Sama seperti saya juga nggak tahu apakah lima tahun lagi jurusan ilmu komunikasi masih akan tetap berbentuk seperti sekarang.

Mungkin jurusannya tetap ada, tetapi kurikulumnya berubah besar-besaran.

Saya malah membayangkan ilmu komunikasi kembali lebih serius membicarakan “komunikasi”-nya. Tentang bagaimana manusia menyampaikan pesan, membangun hubungan, memahami audiens, menyusun strategi komunikasi, dan mengelola reputasi.

Sementara jurnalistik, broadcasting, dan disiplin profesional lainnya mungkin perlu dibuat semakin spesifik.

Tapi itu juga cuma pemikiran saya.

Saya bukan akademisi ilmu komunikasi yang sedang menyusun kurikulum universitas. Saya cuma mantan wartawan yang sampai sekarang masih ikut mengurus media kecil-kecilan sambil melihat industrinya berubah setiap beberapa bulan sekali.

Jadi ketika membicarakan prospek kerja ilmu komunikasi, saya sebenarnya nggak punya jawaban yang benar-benar menenangkan.

Industrinya berubah.

Platformnya berubah.

Teknologinya berubah.

Cara orang mengonsumsi informasi juga berubah.

Tapi anehnya, saya sendiri belum benar-benar kehilangan gairah terhadap media.

Saya masih punya beberapa ide.

Saya masih menyimpan framework yang mungkin suatu saat bisa dipakai kalau ingin membangun media baru dengan konsep dan model bisnis yang berbeda.

Keinginan itu masih ada.

Hanya saja, untuk benar-benar melakukannya lagi, saya harus berpikir berkali-kali.

Sebab kalau lima tahun lalu bisnis media sudah bikin pusing, sekarang rasanya jauh lebih dinamis.

Dan mungkin bukan cuma pengelola media yang harus memikirkan ulang semuanya.

Kampus juga.

Terutama sebelum mahasiswa ilmu komunikasi yang sekarang belajar jurnalistik bertanya kepada dosennya:

“Pak, Bu, nanti setelah lulus sebenarnya saya harus kerja jadi apa?”

Dukung saya agar terus membuat tulisan yang bermanfaat melalui QRIS di bawah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *