Inisiatif dalam Bekerja Bermula dari Kepekaan terhadap Situasi


Inisiatif dalam Bekerja Bermula dari Kepekaan terhadap Situasi

Secara pribadi, saya selalu tidak suka dengan orang yang malas berpikir ketika bekerja. Nggak peka dengan situasi, atau terlalu nyaman dengan pekerjaan yang sifatnya pasif. Datang, duduk, menyelesaikan pekerjaan yang ada di depan komputer, lalu pulang.

Padahal, menurut saya, inisiatif dalam bekerja sering kali bermula dari sesuatu yang sederhana: kepekaan terhadap situasi di sekitar kita.

Saya sendiri memang bekerja dengan duduk di kantor. Namun, bukan berarti kepala saya ikut duduk santai. Ada saja ide yang muncul, entah untuk pekerjaan di kantor maupun proyek pribadi yang sedang saya kerjakan.

Semua itu, kalau saya pikir-pikir lagi, bermula dari kebiasaan melihat keadaan sekitar.

Ketika kita peka terhadap situasi di lingkungan, otak seperti dipaksa tetap aktif. Kita melihat masalah, lalu berpikir apa yang bisa dilakukan. Kadang solusinya memang tidak bisa kita kerjakan sendiri. Kadang bukan kewenangan kita. Namun, setidaknya kita punya ide.

BACA JUGA: Jadi Vibe Coder Tak Masalah, Asal Punya Pola Pikir Ini

Pekerjaan sebagai wartawan melatih kepekaan saya

Kebiasaan ini nggak muncul begitu saja.

Pada 2019 sampai 2023, saya bekerja sebagai wartawan. Pekerjaan yang kalau saya pikir sekarang punya andil cukup besar dalam membentuk cara saya melihat sesuatu.

Menjadi wartawan membuat saya seperti dipaksa melihat sebuah persoalan secara menyeluruh sekaligus mendetail. Ada sesuatu terjadi, saya harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang terlibat, apa masalahnya, sampai hal-hal kecil yang mungkin nggak dilihat orang lain.

Walaupun dulu gaji saya sangaaaaaaaaaaat kecil.

Tapi ya sudahlah.

Setidaknya pekerjaan itu meninggalkan sesuatu yang berharga. Kepekaan tadi terbawa ke pekerjaan-pekerjaan saya selanjutnya. Saya bersyukur akan hal tersebut karena kebiasaan itu membuat saya terus berpikir, punya ide, dan lebih kreatif.

Dari sana pula saya bisa membuat beberapa bisnis yang menghasilkan. Kalau pun nggak menghasilkan uang, setidaknya ada karya yang bisa dibuat dan dinikmati orang lain.

Bagi saya, itu salah satu manfaat dari inisiatif dalam bekerja. Kita nggak cuma menunggu pekerjaan datang ke meja kita.

BACA JUGA: Industri Media Lagi Badai, Bagaimana Prospek Kerja Ilmu Komunikasi?

Ketika orang lain memilih fokus pada layar komputer

Belakangan, rasa peka itu kembali muncul.

Ketika abu vulkanik Gunung Anak Krakatau bisa sampai ke Cianjur dan beberapa kabupaten/kota lain di Jawa Barat, saya terpikir untuk berbagi masker kepada orang-orang.

Masalahnya, hal tersebut bukan kewenangan saya.

Di kantor sudah ada orang yang memang bertanggung jawab dalam urusan semacam itu. Maka saya hanya memberikan ide. Sayangnya, ketika saya menyampaikan ide tersebut, wajah orangnya tampak seperti kesal.

Hehehe.

Ya sudah lah. Bagian saya memang cuma memberi ide.

Saya kemudian mencoba memancing kepekaannya lewat persoalan lain. Saat kemarau dan kekeringan, saya bertanya kepadanya di mana PDAM terdekat.

Dia menjelaskan alamatnya.

Tapi, sayangnya, setelah itu ya sudah. Berhenti sampai alamat PDAM.

Padahal yang terpikir di kepala saya, kenapa kita nggak mencoba bekerja sama dengan PDAM untuk membagikan air bersih ke daerah yang mengalami kekeringan?

Saya nggak bermaksud membuat dia baper. Serius.

Usianya jauh di bawah saya, jadi saya masih bisa memahami kenapa ekspresinya seperti itu ketika saya atau orang lain memberikan ide. Setelahnya, dia kembali fokus dengan komputer dan laporannya.

Saya mencoba berpikir positif saja. Mungkin memang sudah ada agenda lain yang sedang dikerjakan.

BACA JUGA: Kita Sering Salah Meniru Orang Hebat, yang Ditiru Malah Barangnya

Melatih kepekaan agar pekerjaan tetap relevan

Namun, dari kejadian itu saya semakin merasa bahwa inisiatif dalam bekerja punya hubungan yang dekat dengan kepekaan.

Kadang kita bingung mau melakukan apa lagi setelah pekerjaan rutin selesai. Padahal jawabannya mungkin ada di sekitar kita. Kita hanya perlu melihat sedikit lebih jauh dari layar komputer.

Dalam bekerja, kita nggak hanya harus peka terhadap orang lain. Kita juga perlu peka terhadap kondisi, situasi, dan lingkungan.

Kepekaan seperti itu menurut saya bisa membuat pekerjaan kita tidak kehilangan relevansinya. Bahkan, kebiasaan melihat situasi dan mencari solusi bisa membantu kita bertahan dan membuat karier berkembang.

Melatihnya sebenarnya bisa dimulai dari hal sederhana.

Saya suka berbicara dengan warga sekitar. Saya juga membaca berita dari media, bukan hanya mengonsumsi konten hiburan di media sosial. Sesekali saya membaca tulisan opini orang lain.

Dari sana, saya jadi tahu apa yang sedang terjadi sekaligus memahami perspektif orang lain.

Semakin banyak melihat dan mendengar, semakin banyak pula persoalan yang bisa kita tangkap. Dari persoalan itu, biasanya ide mulai bermunculan.

Jadi, bagi saya, inisiatif dalam bekerja bukan sekadar rajin mengerjakan sesuatu tanpa diperintah. Sebelum bisa berinisiatif, kita perlu terlebih dahulu punya kepekaan untuk melihat apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Saya hanya berharap rekan saya yang menjadi penanggung jawab penggerak sosial tadi bisa mencerna ide yang saya berikan.

Sebelum nanti idenya keburu nggak relevan karena kita terlambat bergerak.

Dukung saya agar terus membuat tulisan yang bermanfaat melalui QRIS di bawah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *