NDS Lite Saya Rusak, Hari Itu Juga Saya Beli Lagi dan Baru Sadar Saya Ternyata Bisa Impulsif


NDS Lite Saya Rusak, Hari Itu Juga Saya Beli Lagi dan Baru Sadar Saya Ternyata Bisa Impulsif

Hari ini saya sedih banget.

NDS Lite warna hitam milik saya rusak.

Padahal pagi harinya saya masih asyik main Phoenix Wright. Nggak ada tanda-tanda aneh, nggak ada firasat buruk, pokoknya semuanya berjalan seperti biasa.

Sampai siang hari ketika pulang dari kantor, NDS Lite itu sudah nggak bisa dinyalakan.

Awalnya saya masih mencoba berpikir positif. Mungkin baterainya habis. Mungkin ada sesuatu yang longgar. Mungkin cuma ngambek sebentar dan nanti hidup lagi kalau dibujuk.

Ternyata tidak.

Ketika berhasil dinyalakan, malah nggak bisa dimatikan. Saya cabut baterainya, pasang lagi, eh sekarang malah benar-benar nggak bisa dinyalakan.

Mampus.

Sebagai orang yang kalau ada barang elektronik rusak suka sok-sokan merasa bisa memperbaiki sendiri, saya pun membongkarnya. Siapa tahu ada kabel copot atau sesuatu yang secara kasat mata kelihatan rusak.

Setelah dibuka, saya malah bengong.

Semuanya kelihatan aman.

Saya lihat kanan, lihat kiri, lalu sadar satu hal: saya nggak ngerti salahnya di mana.

Saya bahkan curhat pada tunangan saya, dan bagusnya dia menenangkan saya.

Akhirnya saya melakukan sesuatu yang mungkin jauh lebih mudah daripada memperbaikinya.

Saya beli lagi.

BACA JUGA: Sound Horeg Bukan Hiburan kalau Orang Lain Harus Ikut Menderita

Hari itu rusak, hari itu juga beli lagi

Sejak Punya Nintendo DS Lite, Waktu Saya untuk Scrolling Media Sosial Semakin Sedikit
Nintendo DS Lite hitam saya sebelum rusak

Betul.

NDS Lite saya rusak hari itu, dan hari itu juga saya langsung mencari penggantinya.

Kalau dipikir-pikir, ini perilaku yang sangat bertentangan dengan bagaimana biasanya saya menggunakan uang. Saya termasuk orang yang lumayan perhitungan kalau mau membeli sesuatu.

Barang yang harganya nggak seberapa pun kadang bisa saya pikirkan berkali-kali.

Butuh nggak?

Bakal dipakai nggak?

Kalau nggak beli, hidup saya terganggu nggak?

Pertanyaan semacam itu biasanya muncul sebelum checkout.

Tapi ternyata pertahanan finansial saya punya satu kelemahan.

Barang favorit.

Kalau sudah menyangkut barang yang memang saya suka, teori-teori itu mendadak menghilang begitu saja.

Setelah NDS Lite hitam saya dinyatakan sekarat, saya langsung cari sana-sini di Facebook. Sampai akhirnya menemukan seseorang yang menjual NDS Lite warna putih dengan kondisi layar yang kurang lebih sama seperti milik saya.

Saya tanya-tanya penjualnya, memastikan kondisinya, lalu setelah merasa cukup yakin barangnya aman, langsung checkout.

Nggak pakai menunggu besok.

Nggak pakai metode tidur dulu semalam sebelum mengambil keputusan.

Checkout.

Lucunya, saya malah mendapatkan harga yang lebih murah dibandingkan ketika membeli NDS Lite sebelumnya. Penjualnya juga memberikan tas pouch dan casing silikon.

Memang tanpa R4, tapi saya masih punya R4 dari NDS Lite lama. Bahkan save game-nya masih ada.

Setidaknya saya nggak perlu mengulang semuanya dari awal.

BACA JUGA: Nintendo Berani Hadapi GTA VI, Kita Malah Sering Mundur Sebelum Mencoba

Ternyata saya memang sesayang itu sama NDS Lite

NDS Lite Saya Rusak, Hari Itu Juga Saya Beli Lagi dan Baru Sadar Saya Ternyata Bisa Impulsif
Bagian dalam NDS Lite hitam saya yang rusak.

Saya memang sedih ketika NDS Lite hitam itu rusak.

Bukan semata-mata karena barang elektronik saya mati.

Dalam beberapa waktu terakhir, NDS Lite itu sudah menjadi mainan satu-satunya yang benar-benar saya nikmati.

Saya sudah nggak terlalu betah main game menggunakan gamepad sambil duduk menatap layar. Entah kenapa rasanya semakin ke sini semakin malas saja.

NDS Lite berbeda.

Saya bisa main di mana pun dan kapan pun.

Mau rebahan, bisa.

Mau duduk sebentar, bisa.

Mau main sebentar lalu tutup konsolnya, juga bisa.

Dan yang paling saya suka, saya bisa bermain tanpa diganggu notifikasi HP.

Nggak ada pesan masuk yang tiba-tiba muncul. Nggak ada keinginan membuka aplikasi lain. Nggak ada ceritanya niat main game sebentar, tetapi beberapa menit kemudian malah sibuk melihat sesuatu yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan game.

Saya tinggal buka NDS Lite, lanjut main, selesai.

Sesederhana itu.

Mungkin karena alasan itulah ketika perangkat ini rusak, rasanya seperti kehilangan satu-satunya mainan yang benar-benar cocok dengan cara saya menikmati game sekarang.

BACA JUGA: Setelah Lama Pakai Linux, Ternyata Distro Nggak Sepenting Itu

Tapi tetap saja, ini pembelian impulsif

NDS Lite Saya Rusak, Hari Itu Juga Saya Beli Lagi dan Baru Sadar Saya Ternyata Bisa Impulsif
NDS Lite putih yang saya beli dan sedang dikirim

Walaupun saya punya seribu pembenaran, saya nggak mau berpura-pura keputusan membeli NDS Lite pengganti pada hari yang sama adalah keputusan yang sangat rasional.

Ya impulsif.

Nggak usah dicari pembenarannya.

Hari itu rusak, hari itu sedih, hari itu cari barang, hari itu juga checkout.

Kalau orang lain cerita melakukan hal yang sama, mungkin saya juga akan bilang, “Kenapa nggak tunggu dulu?”

Masalahnya, sekarang yang melakukan adalah saya sendiri.

Wkwkwk.

Dan dari sini saya jadi sadar, ternyata sedisiplin-disiplinnya seseorang terhadap uang, kemungkinan selalu ada satu barang yang bisa membuat kedisiplinan itu sedikit kacau.

Buat saya, ternyata NDS Lite.

Ini menarik karena kita sering merasa sudah menjadi konsumen yang rasional. Kita merasa sudah punya pertimbangan matang setiap membeli sesuatu. Kita merasa nggak gampang tergoda barang.

Sampai barang yang muncul adalah sesuatu yang memang kita suka.

Saat itulah pertimbangan rasional mulai bernegosiasi dengan kalimat, “Ya tapi kan saya suka.”

Dan kalimat itu ternyata ampuh juga.

BACA JUGA: Inisiatif dalam Bekerja Bermula dari Kepekaan terhadap Situasi

Saya tetap nggak menyarankan melakukan hal yang sama

Tentu pengalaman ini bukan pembenaran bahwa setiap barang favorit rusak harus langsung diganti pada hari yang sama.

Jangan.

Saya sendiri sadar keputusan saya impulsif.

Mungkin seharusnya saya menunggu. Mencoba mencari tahu kerusakan NDS Lite hitam itu lebih jauh. Atau paling nggak memberi jeda supaya keputusan membeli yang baru nggak dibuat ketika saya sedang sedih karena barang lama rusak.

Tapi ya sudah.

NDS Lite warna putihnya sekarang sedang dikirim.

Transaksinya sudah terjadi. Mau ceramah soal pengendalian diri selama dua jam pun paketnya tetap jalan ke rumah saya.

Sekarang saya cuma berharap satu hal.

Semoga yang warna putih ini awet.

Serius.

Saya ingin perangkat itu bisa menemani saya lama. Saya ingin melanjutkan save game yang masih tersimpan di R4 lama. Saya ingin bisa kembali buka konsol, main sebentar tanpa notifikasi apa pun, lalu menutupnya ketika sudah selesai.

Dan mungkin pengalaman ini juga menjadi pengingat buat saya sendiri.

Ternyata menjadi orang yang perhitungan bukan berarti kita kebal dari pembelian impulsif.

Kita cuma belum bertemu barang yang tepat untuk membuat semua perhitungan itu ambyar.

Saya sudah menemukan barangnya.

Nintendo DS Lite.

Dukung saya agar terus membuat tulisan yang bermanfaat melalui QRIS di bawah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *