Sound Horeg Bukan Hiburan kalau Orang Lain Harus Ikut Menderita


Sound Horeg Bukan Hiburan kalau Orang Lain Harus Ikut Menderita

Sound horeg lagi-lagi jadi masalah.

Kemarin saya melihat kabar seorang lansia di Jember meninggal setelah tertimpa kanopi ketika pawai sound horeg lewat. Seperti biasa, setelah kejadian itu muncul berbagai pembelaan. Ada yang bilang kejadian tersebut cuma kebetulan. Ada juga yang bilang kanopinya memang sudah rusak sejak awal.

Saya nggak tahu bagaimana kondisi kanopi tersebut sebelum kejadian. Saya juga nggak berada di sana untuk melihat langsung.

Tapi rasanya sulit bagi saya untuk menganggap sound horeg sama sekali nggak punya pengaruh.

Cermin rumah saja bisa bergetar ketika suara dengan dentuman luar biasa keras lewat di depannya. Benda-benda di rumah ikut bergetar ketika sound horeg melintas pun rasanya bukan sesuatu yang aneh.

Jadi, ketika ada sebuah benda roboh tepat saat rombongan dengan suara menggelegar lewat, rasanya juga aneh kalau sound horeg langsung dibebaskan dari segala kemungkinan.

Beberapa waktu lalu polemik soal sound horeg juga sempat mencuat. Katanya, kalau ada rumah atau barang milik warga yang rusak gara-gara sound horeg, nanti kerugiannya akan diganti oleh panitia.

Oke, bagus.

Tapi kalau nyawa yang hilang, mau diganti pakai apa?

BACA JUGA: Nintendo Berani Hadapi GTA VI, Kita Malah Sering Mundur Sebelum Mencoba

Hiburan kok malah bikin orang lain menderita

Saya sebetulnya nggak punya masalah dengan pertunjukan musik, pawai, atau arak-arakan. Saya penggemar musik dan mengoleksi banyak musik. Sesekali saya juga menikmati pertunjukan musik dan pawai.

Masalahnya mulai muncul ketika hiburan yang dinikmati segelintir orang justru berubah menjadi penderitaan bagi orang lain.

Misalnya saya ingin mendengarkan musik dengan volume sekencang-kencangnya di kamar. Saya bebas mau dengar musik apa pun. Mau pop, rock, dangdut, atau lagu galau yang diputar berulang-ulang karena habis ditinggal nikah mantan, silakan.

Tapi kalau volume musik itu membuat tetangga sebelah nggak bisa tidur, masalahnya bukan lagi soal selera musik saya.

Masalahnya adalah saya mengganggu orang.

Sesederhana itu.

Dan menurut saya sound horeg sudah masuk ke wilayah tersebut. Kesenangan orang yang berada di dalam rombongan akhirnya harus dibayar oleh orang-orang yang rumahnya dilewati. Mereka harus mendengar suara yang mungkin nggak ingin mereka dengar, merasakan getarannya, sampai menanggung risiko kalau ada barang yang rusak.

Lebih aneh lagi, beberapa waktu lalu saya melihat video beberapa perempuan yang mengikuti pawai sambil menenteng botol miras. Mereka saling meminumkan arak langsung ke mulut temannya di tengah keramaian.

It’s so disgusting.

Setelah melihat hal-hal seperti itu, saya semakin heran ketika sound horeg kemudian dibungkus dengan satu kata yang menurut saya terlalu besar untuk dipakai sembarangan.

“Budaya.”

Budaya apanya?

BACA JUGA: Setelah Lama Pakai Linux, Ternyata Distro Nggak Sepenting Itu

Nggak semua yang dilakukan ramai-ramai otomatis jadi budaya

Saya memahami kalau selera hiburan setiap orang berbeda. Sesuatu yang menurut saya berisik mungkin dianggap menyenangkan oleh orang lain. Begitu pula musik yang saya sukai belum tentu dinikmati orang lain.

Itu nggak masalah.

Tapi ketika orang mulai membawa kata “budaya”, pembicaraannya menurut saya sudah berbeda.

Budaya seharusnya punya nilai, tradisi, dan akar yang bisa dibicarakan secara antropologis maupun sosiobudaya. Ada sesuatu yang diwariskan, dipelajari, dijaga, kemudian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Kalau cuma speaker ditumpuk tinggi, suara dibesarkan sampai rumah orang bergetar, kemudian orang joget di jalan sambil mabuk-mabukan, kultur apa sebenarnya yang sedang kita lestarikan?

Saya serius bertanya.

Indonesia ini sebenarnya kaya sekali dengan budaya. Sunda dan Jawa saja punya akar sosiobudaya yang sangat kuat.

Sayangnya, kita terkadang malas mengenalnya lebih jauh.

Kita sering memahami budaya hanya dari event dan ritualnya. Ada acara besar, orang pakai pakaian tradisional, bikin arak-arakan, foto-foto, kemudian selesai.

Padahal kultur nggak cuma soal acara.

Coba lihat Jepang. Kita sering mengagung-agungkan bagaimana masyarakat di sana punya kultur kesopanan, kebersihan, kedisiplinan, dan ketepatan waktu yang dipupuk sejak dini.

Kita kagum.

“Wah, orang Jepang disiplin banget.”

“Wah, orang Jepang bersih banget.”

“Wah, orang Jepang sopan banget.”

Menirunya?

Nanti dulu.

Lucunya, di tempat kita sendiri sesuatu kadang cepat sekali mendapat label budaya hanya karena dilakukan ramai-ramai dan sudah beberapa kali diselenggarakan.

Padahal kalau begitu caranya, apa pun yang dilakukan berulang kali nanti bisa disebut budaya.

BACA JUGA: Inisiatif dalam Bekerja Bermula dari Kepekaan terhadap Situasi

Kalau mudharatnya lebih banyak, untuk apa dipertahankan?

MUI Jawa Timur pun akhirnya memberikan fatwa haram terhadap sound horeg. Saya setuju dengan keputusan tersebut.

Saya memang bukan ustadz. Ilmu agama saya juga nggak cukup untuk bicara panjang lebar soal hukum agama.

Tapi kalau melihat maslahat dan mudharatnya dengan kemampuan berpikir saya yang seadanya, rasanya sound horeg lebih banyak membawa mudharat.

Mengganggu orang sudah jelas.

Potensi merusak barang juga ada.

Belum lagi berbagai perilaku lain yang muncul bersamaan dengan acara tersebut.

Sebagai orang yang punya otak dan masih bisa melihat keadaan sekitar, saya rasa nggak sulit memahami bahwa sound horeg memang mengganggu dan berpotensi membahayakan.

Makanya ketika ada bos sound horeg yang sampai menyebut MUI Jawa Timur goblok, saya malah jadi bertanya sejauh apa persoalan ini sebenarnya dipikirkan.

Kalau yang ada di kepala cuma hiburan dan uang, ya memang sulit.

Semua kritik akan dianggap serangan terhadap mata pencaharian. Semua aturan dianggap mengganggu hiburan masyarakat. Semua orang yang protes disebut nggak bisa menikmati kesenangan.

Padahal masalahnya bukan orang lain nggak suka bersenang-senang.

Orang cuma ingin rumahnya tenang.

BACA JUGA: Jadi Vibe Coder Tak Masalah, Asal Punya Pola Pikir Ini

Pemerintah jangan terus-terusan cari aman

Masalah berikutnya adalah para pemimpin daerah di negara kita terlalu sering cari aman menghadapi hal semacam ini.

Praktik-praktik yang sejak awal seharusnya bisa diatur malah dibiarkan sampai akhirnya menjadi kebiasaan. Ketika sudah besar, punya banyak penggemar, punya banyak orang di belakangnya, pemerintah baru bingung mau bertindak seperti apa.

Mungkin takut preman.

Mungkin takut ormas.

Mungkin juga takut nggak terpilih lagi pada periode berikutnya.

Saya nggak tahu.

Tapi menurut saya pemerintah memang seharusnya hadir ketika kebebasan satu kelompok mulai mengganggu kebebasan kelompok lainnya.

Sekali lagi, nggak ada yang melarang orang bikin pertunjukan musik. Nggak ada yang melarang orang berjoget. Nggak ada yang melarang pawai dan arak-arakan.

Silakan.

Tapi semuanya punya batas.

Kalau hiburan membuat rumah orang bergetar, mengganggu warga yang ingin beristirahat, merusak barang, sampai berpotensi membahayakan orang, saya kira kalimat “namanya juga hiburan” sudah nggak berlaku.

Ini bukan lagi sekadar urusan selera musik.

Yang lebih menyedihkan, mentalitas malas berpikir, miskin gagasan, dan kurang kreatif seperti ini malah terus dipelihara. Seolah-olah sebuah acara baru dianggap meriah kalau suaranya semakin keras, jalannya semakin ramai, semakin banyak orang terganggu, dan semakin banyak warga yang harus mengalah.

Padahal membuat acara yang menyenangkan tanpa merugikan orang lain seharusnya bukan konsep yang susah dipahami.

BACA JUGA: Industri Media Lagi Badai, Bagaimana Prospek Kerja Ilmu Komunikasi?

Kita bebas mencari hiburan, orang lain juga bebas hidup tenang

Kalau para praktisi sound horeg masih terus ngeyel setelah berbagai polemik yang terjadi, saya juga nggak tahu lagi persoalan ini mau dibawa ke mana.

Mungkin pada akhirnya satu-satunya hal yang benar-benar bisa menyelamatkan generasi berikutnya memang pendidikan.

Bukan cuma pendidikan formal di sekolah. Pendidikan di rumah justru menjadi sesuatu yang jauh lebih penting.

Anak harus diajarkan sejak kecil bahwa hidup bermasyarakat berarti memahami batas antara kesenangan pribadi dan hak orang lain.

Mau mendengarkan musik, silakan.

Mau berjoget, silakan.

Mau bikin acara, silakan.

Tapi jangan merasa seluruh kampung harus ikut menikmati sesuatu hanya karena kita menikmatinya.

Sebab hidup bersama orang lain memang seperti itu. Kita nggak bisa melakukan semua yang kita inginkan hanya dengan alasan, “Saya kan bebas.”

Kita bebas mencari hiburan.

Tapi orang lain juga bebas hidup tenang.

Dan kalau sebuah hiburan cuma bisa berjalan dengan cara memaksa orang lain mendengar suaranya, merasakan getarannya, menanggung risikonya, bahkan mungkin menjadi korbannya, rasanya sudah waktunya berhenti menyebut semua itu sebagai hiburan.

Apalagi budaya.

Sudah waktunya ditertibkan.

Dukung saya agar terus membuat tulisan yang bermanfaat melalui QRIS di bawah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *