Phoenix Wright: Ace Attorney Mengajari Saya Bahwa Kebohongan Selalu Butuh Kebohongan Lain


Phoenix Wright: Ace Attorney Mengajari Saya Bahwa Kebohongan Selalu Butuh Kebohongan Lain

Salah satu game Nintendo DS yang belakangan ini sering saya mainkan adalah Phoenix Wright: Ace Attorney. Bahkan, saat tulisan ini dibuat, sebetulnya saya sudah hampir menamatkan game tersebut. Kalau Nintendo DS Lite saya nggak rusak, mungkin kemarin game ini sudah tamat.

Sayangnya, NDS Lite saya malah rusak ketika permainan tinggal sedikit lagi. Sebuah cobaan yang cukup menyebalkan bagi orang yang sedang penasaran dengan akhir cerita. Untungnya, NDS Lite penggantinya sedang dikirim. Jadi, kemungkinan hari ini saya bisa melanjutkan permainan dan akhirnya tamat. Hehehe.

Phoenix Wright: Ace Attorney mungkin bukan game untuk semua orang. Apalagi kalau terbiasa memainkan game yang isinya gebuk-gebukan, balapan, atau sesuatu yang menuntut jari bergerak cepat. Game ini lebih banyak meminta pemain membaca, memperhatikan percakapan, mengumpulkan bukti, lalu mencari sesuatu yang nggak beres dari kesaksian seseorang.

Tapi justru itu yang membuat saya suka.

Saya tumbuh dengan PS1 dan PS2. Perjalanan saya mengenal Nintendo baru dimulai ketika main Game Boy Advance. Dari sana saya mulai menemukan kalau ternyata ada jenis game yang bagi saya terasa lebih fun untuk dimainkan.

Dan Phoenix Wright membawa warna baru lagi ketika saya berkenalan dengan Nintendo DS.

BACA JUGA: NDS Lite Saya Rusak, Hari Itu Juga Saya Beli Lagi dan Baru Sadar Saya Ternyata Bisa Impulsif

Kebohongan ternyata memang merepotkan

Ada banyak hal yang saya dapat selama memainkan Phoenix Wright. Salah satu yang paling terasa justru bukan soal menjadi pengacara atau bagaimana memenangkan persidangan, melainkan bagaimana mendeteksi kebohongan seseorang.

Pepatah lama bilang, satu kebohongan akan melahirkan kebohongan lainnya.

Di Phoenix Wright, kalimat semacam itu terasa sangat nyata.

Dalam beberapa persidangan, kita sebenarnya sudah punya cukup bukti untuk menyimpulkan apa yang terjadi. Rasanya kasus sudah selesai. Pelakunya sudah ketahuan, bukti sudah ada, tinggal ketok palu saja.

Eh, ternyata belum.

Ketika ada satu kebohongan dalam kesaksian yang berhasil terdeteksi, masalahnya malah semakin panjang. Muncul fakta baru, kemudian kebohongan baru, lalu muncul lagi fakta lain yang membuat kesimpulan sebelumnya berubah.

Begitu terus sampai saya kadang bertanya-tanya, “Ini orang kenapa nggak jujur dari awal aja, sih?”

Tapi mungkin memang begitu cara kerja kebohongan. Ketika satu cerita palsu dibuat, cerita lainnya harus ikut disesuaikan agar kebohongan pertama tetap terlihat masuk akal. Begitu ada satu bagian yang bolong, semuanya pelan-pelan ikut terbuka.

Kasus pembunuhan Steel Samurai dan kasus dugaan pembunuhan Miles Edgeworth menjadi dua kasus yang paling berkesan bagi saya. Banyak sekali hal yang awalnya terasa sudah jelas, tetapi ternyata berubah setelah kesaksian seseorang mulai dipertanyakan.

Ada juga beberapa kasus yang sukses membuat kepala saya pusing. Terutama kasus terakhir yang hanya ada di versi Nintendo DS.

Main game niatnya cari hiburan, malah disuruh mikir keras.

BACA JUGA: Sound Horeg Bukan Hiburan kalau Orang Lain Harus Ikut Menderita

Hal kecil yang kelihatannya nggak penting

Selain soal kebohongan, Phoenix Wright juga mengajarkan saya untuk lebih peduli terhadap detail.

Ketika masuk ke bagian investigasi, kita diminta memeriksa tempat kejadian dan sekitarnya. Nggak selalu benda besar atau sesuatu yang sejak awal terlihat mencurigakan. Kadang justru hal-hal kecil yang rasanya nggak ada hubungannya dengan kasus.

Orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian, pecahan kaca, sidik jari, sarung tangan bekas, sampai catatan acak yang ketika pertama kali ditemukan bikin saya bingung sendiri.

“Ini apaan?”

Tapi barang-barang semacam itu tetap harus diperhatikan.

Sebab, setelah semua bukti dikumpulkan dan persidangan berjalan, perlahan semuanya mulai nyambung. Barang yang tadinya terlihat nggak penting bisa menjadi bagian yang membuat satu kesaksian runtuh.

Bagi saya, justru di situlah menariknya Phoenix Wright.

Kita dipaksa untuk nggak buru-buru merasa sudah tahu semuanya.

Sesuatu yang terlihat jelas belum tentu benar. Kesaksian yang terdengar meyakinkan belum tentu sesuai kenyataan. Bahkan benda kecil yang awalnya kita abaikan bisa mengubah keseluruhan cerita.

Dan mungkin perspektif itu yang akhirnya terbawa setelah saya memainkan game ini cukup lama. Bahwa sering kali masalah bukan karena kita kekurangan informasi, tapi karena kita terlalu cepat menganggap beberapa informasi nggak penting.

BACA JUGA: Nintendo Berani Hadapi GTA VI, Kita Malah Sering Mundur Sebelum Mencoba

Visual novel yang ternyata bisa bikin tegang

Pada dasarnya Phoenix Wright: Ace Attorney adalah visual novel. Banyak membaca, banyak percakapan, kemudian sesekali mencari bukti dan menunjukkan kontradiksi.

Tapi entah kenapa saya bisa dibuat tegang ketika memainkannya.

Terutama ketika sudah merasa menemukan kebohongan dalam sebuah kesaksian, tetapi ternyata bukti yang saya tunjukkan salah. Atau ketika sebuah kasus rasanya sudah selesai, lalu muncul informasi baru yang membuat semuanya berantakan lagi.

Game ini nggak membutuhkan aksi yang cepat, tapi berhasil membuat saya terus penasaran.

Mungkin karena Phoenix Wright bukan sekadar meminta pemain mencari siapa yang berbohong. Kita juga harus memahami kenapa sebuah kesaksian nggak masuk akal, bagian mana yang bertentangan dengan bukti, dan bagaimana semua detail kecil tadi saling terhubung.

Saya tinggal sedikit lagi menamatkan game pertamanya. Setelah NDS Lite baru saya datang, rencananya semua seri Phoenix Wright yang ada di Nintendo DS akan saya mainkan.

Kalau nanti NDS Lite penggantinya nggak rusak lagi, tentunya.

Setidaknya setelah memainkan game ini, saya semakin percaya satu hal: kebohongan memang bisa dibuat serapi apa pun, tapi mempertahankannya ternyata jauh lebih merepotkan. Sebab, satu kebohongan hampir selalu membutuhkan kebohongan berikutnya.

Dan kadang, yang membongkar semuanya justru perkara kecil yang sejak awal dianggap nggak penting.

Dukung saya agar terus membuat tulisan yang bermanfaat melalui QRIS di bawah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *